Tahun baru, semangat baru, jalan-jalan ke tempat! Biasanya traveler udah pantau tanggal-tanggal merah yang ada di tahun ini dan hari-hari apa saja yang kejepit sehingga bisa ngambil cuti. Kalau beruntung, kadang-kadang bisa dapet liburan seminggu dengan hanya cuti 2 hari, hehehe... Makanya kalender cuti selalu dipantau supaya bisa tetap jalan-jalan. Apalagi kalau sudah ada promo besar maskapai, langsung kalender cuti itu ditempel di samping komputer supaya kedapetan tiket dengan tanggal yang cocok. Niat udah ada, uang juga sudah siap, terus mau ke mana kita?

Tips singkat ini akan memberi kamu sedikit insight mengenai pilihan destinasi buat menghabiskan jatah cuti kita.

Indonesia
Dari semua negara yang pernah saya datangi, nggak ada yang ngalahin Indonesia dalam hal budaya, makanan, dan wisata alamnya. Masing-masing negara pasti memiliki keunikan masing-masing untuk dieksplor, dan negara kita tercinta ini terkenal keindahan alamnya. Belum lagi kemudahan-kemudahan dalam hal bahasa, uang, komunikasi, Indonesia bisa jadi tempat untuk menambah pengalaman jalan-jalan. Go out and explore! Dari Jakarta saja, dengan budget minim, kita bisa pergi ke Kepulauan Seribu untuk menikmati pantainya. Pengen wisata kuliner? Setiap daerah pasti punya. Malah kalau kita datang ke asal tempat, perut kita akan selalu hepi karena makanannya enak-enak. Punya uang lebih, bisa ke kota-kota di Jawa untuk mendaki gunung, menyusuri pantai, mengarungi jeram sungai, atau sekedar mampir-mampir buat makan. Impian saya sampai saat ini belum tercapai: road trip NTB dan NTT.
Recommended (minimal 3-5 hari): Bali, Makassar, Lombok, Komodo, Derawan, Kepulauan Ora, Sumba

Singapura dan Malaysia (duh, bosen?)
Kenapa dua negara ini? Karena dari segi bahasa, kita bisa pakai Bahasa Indonesia dasar yang mirip-mirip dengan Melayu, makanannya masih relatif sama, dan culture shock-nya tidak berlebihan. Selain itu, tiket promo maskapai-maskapai regional Asia banyak yang menjual tiket murah dengan rute Indonesia ke kedua negara ini karena merupakan rute gemuk sehingga mereka biasa berkompetisi menjaring penumpang. Saya pernah mendapatkan tiket murah kurang dari lima ratus ribu untuk ke Singapura, sudah pulang pergi dan termasuk pajak. Ngiler banget kan... Untuk biaya jalan-jalan di sana, memang Singapura jauh lebih mahal dari pada Jakarta, tapi kita bisa merasakan “luar negeri banget” di negara ini. Sejauh ini saya sudah tiga kali ke Singapura dan tiga kali ke Kuala Lumpur, tetapi nggak pernah merasa bosan karena banyak yang menarik dan makanan di sana enak-enak, hehehe... Dan serunya lagi, event-event terkenal, F1 misalnya, atau konser artis besar sering diadain di dua negara ini, Indonesia di-skip, kan asyem.
Recommended (minimal 3 hari): Kuala Lumpur, Penang, Singapura

Negara-negara ASEAN non-Melayu lainnya
Karena saya suka banget dengan hal-hal yang berbau budaya, menurut pendapat saya, ASEAN itu surga buat jalan-jalan. Rasa makanannya relatif lebih sama, budaya yang tidak terlalu jauh, bebas masuk tanpa visa dan landscape alamnya juga gak kalah bagus. Seringnya, promo AirAsia atau maskapai low budget regional membuat kita bisa mengeksplor negara-negara ini. Tiket murah ke Bangkok atau Ho Chi Minh City suka diobral murah. Kesempatan bagus banget! Saya pernah dapat tiket pp KL-Yangon (Myanmar) seharga 500 ribu rupiah saja karena promo free seats AirAsia. Dan tahun depan saya akan backpacking keliling ASEAN dengan tiket 550 ribu pp karena promo. Kalau punya waktu banyak, paling cocok ya mengeksplor negara-negara ini.
Recommended (minimal 5 hari): Bangkok, Ho Chi Minh City, Siem Reap, Yangon, pulau-pulau di Filipina

Asia yang Murah
Haha, kategori apa ini, Asia yang murah. Untuk traveler Indonesia, bisa dipertimbangkan ke India atau Nepal (visa on arrival) karena biaya hidup di sana relatif murah. Masih aman buat kantong Indonesia. Nepal sering disebut-sebut sebagai high-value destination karena dengan harga yang murah, kita bisa melihat kekayaan budaya, keindahan alam, dan keunikan bangsa yang sangat melimpah. Walaupun saya belum pernah ke dua negara ini, melihat dari pengalaman backpacker lain, kedua negara ini patut dikunjungi. 
Recommended (minimal 1 minggu): Jaipur, New Delhi, Agra, Kathmandu, Pokhara

Asia yang Mahal
Here comes the list, dimulai dari 3 negara besar Asia Timur yang butuh visa: Cina, Korea Selatan, dan Jepang. Jalan-jalan ke tiga negara ini relatif mahal untuk kantong orang Indonesia. Kalau punya uang dan waktu lebih dan pengen cuti yang agak banyak, bisa ke salah satu negara ini, tergantung preference-nya. Kalau pengen lihat salah satu Seven Wonders, bisa ke Beijing untuk melihat Great Wall, Xian untuk melihat Terracotta Army. Kalau mau borong produk kosmetik Korea dan fans berat K-Pop, bisa ke Seoul, atau fans berat wisata alam bisa ke Jeju Island. Kalau pengen ke Universal Studio yang ada Harry Potter Wizarding World-nya (cuma ada 2 di dunia: Florida dan Osaka), nyobain pake yukata jalan di Kyoto ala geisha, nyobain makanan Jepang asli, ya ke Tokyo, Osaka, Kyoto. Selain 3 negara ini, Hongkong, Macau, dan  Taiwan bisa jadi pilihan juga.
Recommended (minimal 1 minggu): Tokyo, Osaka, Kyoto, Beijing, Seoul, Jeju

Eropa, Australia, dan USA
Kalau punya waktu minimal 2 minggu karena jatah cutinya bisa dijebret semua (lucky you), pilihan lain adalah ke Eropa, Amerika, atau Australia. Saya cuma pernah ke Eropa, belum pernah ke benua lain, jadi belum bisa bicara banyak, hehehe
Recommended Eropa (minimal 2 minggu): semua negara, huehehehe

Gimana, jadi kalo ada hari libur kejepit-kejepit dan promo besar AirAsia, sudah kebayang kan mau ke mana. Ada tambahan? Silakan isi comment di bawah ya!

-@travelitarius happiness is stored in a flight ticket
Read More
Selamat bulan Februari! Udah lama banget gak nulis, gara-gara tugas kuliah yang nggak ada habis-habisnya, hiks... Mumpung lagi males belajar, gimana kalo kita ngomongin budget? Kali ini saya akan menguraikan pengeluaran di Myanmar. Saya ke sana pada tahun 2015, jadi semoga harga-harga dicantumkan di sini masih bisa memberikan gambaran.

First thing first, menurut saya jalan-jalan di Myanmar itu mahal. Kemana-mana harus naik taksi dan kalau kita ke Bagan, kita harus membayar biaya masuk ke kota dengan ribuan candi ini, dan biaya ini mahal. Karena ke mana-mana naik taksi, maka lebih baik memang kita harus pergi minimal berempat orang supaya bisa sharing biaya. Tapi karena saya ke sana sendirian, jadinya terasa mahal.


PENGELUARANDALAM KYATDALAM IDR
TRANSPORTASI
Taksi ke Terminal Bus Aung Mingalar K6,000Rp78,000
Taksi ke Terminal Bus EliteK1,000Rp13,000
Tiket bus Elite ke MandalayK10,700Rp139,100
Taksi ke Royal Yadanarbon Hotel MandalayK4,000Rp52,000
Parkir Mandalay HillK200Rp2,600
Sewa ojek 1 hari di MandalayK12,000Rp156,000
Tiket bus JJ Express VIP ke YangonK18,500Rp240,500
Sewa delman seharian di BaganK20,000Rp260,000
Taksi ke Shwedagon PayaK2,000Rp26,000
Taksi ke City Hall YangonK2,500Rp32,500
Taksi ke Hninn Si Budget Inn YangonK3,000Rp39,000
Taksi ke Yangon International AirportK8,000Rp104,000
SUBTOTALK87,900Rp1,142,700
MAKAN
Roti untuk bekal perjalanan (2 buah)K1,300Rp16,900
Makan siang di MandalayK1,000Rp13,000
Makan siang di YangonK2,500Rp32,500
Makan malam di Yangon (kelas mal)K3,500Rp45,500
Snack Myanmar (oleh-oleh)K7,350Rp95,550
Teh MyanmarK1,200Rp15,600
SUBTOTALK16,850Rp219,050
AKOMODASI
Royal Yadanarbon Hotel Mandalay (1 malam)K22,000Rp286,000
Hninn Si Budget Inn Yangon (1 malam)K22,000Rp286,000
SUBTOTALK44,000Rp572,000
JALAN-JALAN
Tiket masuk Shwedagon Paya YangonK8,000Rp104,000
Tiket masuk kota BaganK22,000Rp286,000
Donasi di kuil Mandalay HillK300Rp3,900
Donasi di Mahamuni Pagoda MandalayK500Rp6,500
SUBTOTALK30,800Rp400,400
SUVENIR
Longyi 1 buahK10,000Rp130,000
Bedak thanakaK4,150Rp53,950
Magnet suvenir MyanmarK2,000Rp26,000
LacquerwareK5,000Rp65,000
Suvenir gantungan kunciK2,000Rp26,000
SUBTOTALK23,150Rp300,950
TOTAL PENGELUARANK202,700Rp2,635,100

Oke, oke, saya memang boros di bagian transportasi. Tapi karena saya nggak punya waktu banyak, sementara ingin melihat 3 kota dalam waktu singkat, saya terpaksa memilih cara yang cepat, mudah, dan nyaman untuk melihat kota seperi naik taksi, sewa ojek, dan sewa delman. Walaupun agak mahal, menurut saya setimpal dengan pengalamannya... Saya bebas ngobrol dengan supir saya tentang Myanmar dan mereka memang baik-baik banget! Jadi berasa ikhlas bayar sedikit mahal, hehe... Untuk taksi, harga di atas adalah harga wajar, saya sering bertanya dengan petugas hotel mengenai tarif taksi, dan memang supir taksi di sana tidak mematok tarif tinggi untuk turis. Untung saja... Myanmar, stay awesome...

Ada komen, tambahan, atau pertanyaan? Silakan isi kolom komen dibawah ya!

-@travelitarius do you want to time travel? Go to Myanmar, a place where you will feel the most humble feelings
Read More
Selamat tahun baru! Tahun ini saya mau lebih rajin nulis di blog!! *amin*

Judul post ini kesannya sombong banget yah, berasa udah paling expert aja. Tapi bukan gitu kok maksudnya. Melalui tulisan ini saya pengen cerita tips-tips untuk memudahkan backpacker yang baru akan mulai traveling supaya perjalanannya lebih aman dan fun. Banyak kejadian-kejadian nyebelin yang saya alami sendiri sehingga saya nggak mau temen-temen ngalamin hal yang sama. Cieh.

Kalau udah sampe di kota tujuan, usahakan selalu menggunakan transportasi umum, hindari taksi atau rental mobil kalau nggak kepepet banget. Selain harganya mahal banget, naik transportasi umum itu seru banget lho! Cuma di Myanmar yang saya pakai taksi ke mana-mana karena bus di sana rongsokan, isinya sangat penuh, hurufnya cacing, dan nggak ada yang bisa Bahasa Inggris. Dari pada capek, mendingan naik taksi ajah. In fact, the best way is walking! J

Nggak perlu bawa baju banyak-banyak. Untuk backpacking 2 bulan saya cukup membawa 6 helai baju, 2 celana panjang, dan 2 celana pendek. Ada juga backpacker yang lebih hemat tempat, hanya bawa 3 helai baju, 1 dicuci, 1 dipakai, dan 1 untuk spare. Bawa baju-baju yang bahannya ringan, cepat  kering, warnanya netral, dan gak cepet lecek. Packing for backpacking is not about what you bring, it is about what you not bring. Kalau untuk dalaman, bawalah yang lumayan banyak. Pakaian luar boleh nggak ganti-ganti, dalaman jangan sampe side A-side B. Untuk sepatu, bawalah maksimal dua alas kaki dan 1 sendal jepit karet. Cukup itu aja kok. Pilih sepatu yang nyaman (nanti akan saya tulis di post selanjutnya, bagaimana memilih sepatu untuk traveling)

Kalau mau beli kaus kaki yang investasinya bagus, belilah kaus kaki dengan bahan wol Merino yang nggak cepat bau. Agak mahal sih, hiks... Bawa kaus kaki yang banyak, you’ll never know what will happen.

Ketika kita traveling, kita adalah tamu di negara tersebut, sekaligus duta Indonesia. Ikuti custom di negara itu, minimal nggak bikin ulah, buat orang-orang respect terhadap kita. Dress as the locals do. Kalau diwajibkan pakai jilbab, baju tertutup, atau apapun, pakai saja walaupun cuacanya panas banget. Kalau tujuan kita traveling untuk bertemu budaya dan orang baru, mulailah membaur dengan mereka. Pelajari semua Do’s and Dont’s. Misalnya, di Italia dan Vatican, jangan coba-coba pakai celana pendek dan baju tank top karena akan ditolak masuk ke gereja dan katedral. Di Bulgaria, mengangguk adalah tidak sementara menggeleng adalah iya... Nah lho bingung kan?

Bawa uang dengan kombinasinya: uang kertas, recehan (kalo bisa), kartu debit, dan kartu kredit. Misalnya, ketika baru sampe ke suatu negara, kalau hanya punya banknotes besar, coba untuk pecahin dulu. Recehan ini akan dipakai untuk naik metro atau transportasi lain menuju kota. Kalau ke negara dengan mata uang yang susah dicari di Indonesia, seperti Myanmar, Kamboja, atau Vietnam, bawa kartu ATM dan tarik uang ketika sampai di sana. Cari mesin ATM yang memiliki logo yang sama dengan dengan yang tercantum di kartu. Amannya sih, cari mesin berlogo VISA/Mastercard. Biaya penarikan Rp 25.000, tidak tergantung besar atau kecil nominalnya. Langsung aja ambil banyak supaya lebih hemat. Kalau traveling ke tempat-tempat terpencil, seperti desa atau pulau, cobalah untuk membawa uang tunai saja karena nantinya akan susah menemukan ATM. Simpan uang-uang ini di dalam money belt dan bawa uang harian secukupnya di dompet. Ketika pulang traveling, kalau masih punya recehan, usahakan habiskan uang tersebut karena ditukar lagi ke rupiah di Indonesia pun belum tentu bisa dan kursnya bagus.

Kalau berencana memakai ponsel untuk berkomunikasi secukupnya seperti SMS dan masa traveling-nya sebentar, tidak usah membeli kartu SIM baru di sana. Apalagi di Eropa yang negaranya banyak, nggak mau kan sedikit-sedikit ganti kartu? 1 kali SMS di negara lain harganya beda-beda tergantung operator kamu. Saya dulu memakai XL untuk traveling di Eropa karena biaya SMS-nya cuma Rp 5.000 per SMS, lebih murah dibandingkan operator lain. Biaya SMS ini adalah biaya SMS ke nomor lokal dan nomor Indonesia. Kalau ingin memakai SIM card agar telepon dan internet murah karena keadaan mengharuskan, baru disarankan untuk membelinya. Cek promo-promo di website operator lokal negara tujuan.

Untuk akomodasi murah, cek www.hostelbookers.com dan bayar DP 10% untuk booking. Hostelbookers meng-cover banyak jenis penginapan, mulai dari camp ground, hostel, hotel, sampai apartemen. Kalau ada promo, harga penginapannya bisa murah banget bikin galau. Kalau udah nemu nama hostelnya, jangan langsung booking. Searching dulu di Google, cari website hostelnya, untuk membandingkan harganya. Kadang, hostel tersebut memiliki promo dan diskon yang nggak masuk di Hostelbookers. Jangan lupa juga bandingkan harga dengan jarak hostel ke pusat kota dan fasilitas yang akan kita dapatkan. Jangan sampai kamu booking hostel murah ternyata jauh dan ongkos ke kotanya lebih mahal. Atau booking hostel murah ternyata lokasinya di red light district, hiiii! Gak papa sedikit lebih mahal beberapa dolar kalau dapet sarapan dan review-nya bagus. Pengalaman paling sial saya di hostel adalah ketika menginap di Fernloft Hostel Kuala Lumpur, sekujur tubuh saya digigit bed bugs! Ketika saya bangun keesokan harinya, bentol-bentol merah dari muka sampe kaki bikin perjalanan lanjutan saya nggak nyaman. Huh! Murah sih murah, tapi bawa petaka. Besoknya, saya langsung tulis review jelek di hostelbookers.com

Safety dan security first! Selalu ingat ini kalau lagi traveling. Bawa fotokopi semua dokumen penting di tas, minimal 2 lembar masing-masing, seperti fotokopi paspor, polis asuransi, KTP, visa, dll. Bawa gembok untuk mengunci tas, kalau backpack, di-wrap dulu sebelum check in bagasi, taruh stiker fragile. Bawa gembok untuk mengunci tas di loker, di kereta, di lemari, dll. Pakai money belt untuk menyimpan paspor, uang dan kartu-kartu bank, copet ada di mana-mana! Dan jangan salah, di Eropa banyak banget scam, misalnya di Montmartre Paris banyak orang kulit hitam (bukannya saya rasis) yang menawarkan gelang persahabatan, awalnya mereka ramah dan mencoba memakaikan gelang itu ke kita, padahal ujung-ujungnya kita akan dipalak. Sasaran utama mereka dalah turis Asia lugu. Atau di pusat keramaian Paris, ada yang bermain “Three Cups”, kita harus menebak dimana bola bersembunyi di antara ketiga cangkir plastik. Awalnya kita melihat ada orang yang bertaruh dan menang, padahal orang itu adalah teman si penipu. Giliran kita yang bertaruh, there’s no way we will win. Di Paris (lagi) ada orang yang mencoba menjual tiket metro murah di pintu depan stasiun, jangan percaya karena tiketnya palsu. Di Venice dan Milan ada orang-orang yang menghampiri kita menawarkan gelang persahabatan dan makanan burung. It seems fun memberi makan burung yang banyak di San Marco Square atau Piazza Duomo, tapi nanti kita disuruh bayar atas semua itu. Praha, Budapest, sama saja, banyak copet... sebagian adalah anak-anak karena mereka tidak bisa ditindak pidana. Use common sense saja... saya karena sudah terbiasa dengan lingkungan Jakarta, alhamdulillah nggak pernah kecopetan. Googling saja dulu “Paris scams...” atau “Prague scams...” untuk mengetahui situasinya sehingga kita bisa menyesuaikan. Pokoknya, prinsip saya adalah kalau too good to be true, curigai itu adalah scam. Nanti setelah “latihan” traveling, kita akan bisa membedakan mana yang beneran tulus baik, mana yang mencoba menipu kita.
Saya bawa buku ini untuk keliling Eropa, cukup membantu. Tapi hampir semua anak muda bisa Bahasa Inggris...
(image courtesy of Lonely Planet)

Hafalkan beberapa frase penting dalam bahasa lokal. Itu saja sudah cukup untuk survive dan mendapat respect dari orang lokal. Saya pernah gaya-gayaan memesan tiket pake Bahasa Prancis yang pronunciationnya memalukan, terus dibales dengan Prancis juga. Melongo lah saya. Namun petugas loket langsung tersenyum lebar dan memberikan tiket dan kembalian saya dengan ramah serta mengajarkan saya cara membeli tiket menggunakan mesin. Atau saya juga pernah melongo lagi pas gaya-gayaan beli tiket metro di tabbacheria (pedagang rokok) pake Bahasa Italia dan dibalas Italia juga. Saya selalu minta bantuan host untuk menyebutkan frase-frase penting, khususnya halo, selamat pagi, terima kasih, permisi, dan babi. Khusus babi saya minta dituliskan di kertas karena nantinya akan saya bawa kalau sedang berbelanja dan membaca komposisi makanan yang akan saya beli. Bahasa Polandia paling susah pronunciationnya, host saya sampe ketawa guling-guling melihat saya mencoba mengucapkan “terima kasih” yang nggak pernah benar.

Jangan pernah menerima sesuatu tanpa sepakat harganya berapa. Upayakan selalu bernegosiasi harga, apalagi di negara-negara berkembang. Kalo membaca pengalaman dari traveler lain, India adalah negara dengan orang-orang yang banyak trik jual beli yang tipu-tipu. Saya sendiri belum pernah ke India, jadi belum bisa cerita pengalaman. Pakai jurus klasik pura-pura gak minat dan pura-pura pergi kalau pedagang keukeuh dengan harga yang ditawarkan. Tapi saya biasanya nggak menawar kalau yang berjualan ibu-ibu tua yang berjualan sendirian, kalaupun mark-up tinggi, kan uang saya akan dipakai untuk menyokong keluarganya. Sedikit banyak, pariwisata memang menggerakkan ekonomi penduduk lokal, dan membeli produk mereka adalah salah satu caranya.

Gunakan smartphone, tablet, atau laptop untuk keperluan traveling. Download aplikasi bermanfaat, selalu riset lokasi dan transportasi, dan membaca forum-forum traveling. Teknologi juga kita pakai untuk membeli tiket bus atau kereta atau sekedar update blog atau sosial media selama perjalanan.

Riset mengenai lingkungan kesehatan destinasi yang kita kunjungi. Kalau akan pergi ke daerah pandemi malaria, jangan lupa minum pil kina sebelum pergi. Beberapa tujuan traveling membutuhkan vaksin, misalnya vaksin meningitis. Cek dulu semuanya sebelum pergi. Saya meminum 2 tablet sebelum pergi ke 3 kota di Papua untuk jaga-jaga, walaupun masih daerah kota.

Kalau lagi nyasar senyasar-nyasarnya sampai tidak tahu ini jalan apa dan bagaimana mau ke suatu tempat, masuklah ke suatu hotel dan tanyakan kepada petugas hotelnya. Paling tidak dia bisa berbahasa Inggris dan mengerti lingkungannya. Sebenarnya pegawai McDonalds atau Starbucks juga bisa kita tanyakan, tetapi ada di beberapa negara yang mengembargo produk Amerika, seperti Tiongkok.

It started with a “hello...”. Jangan underestimate the power of hello di dunia traveling. Menyapa oang lokal dan sesama traveler bisa menambah teman, mendapatkan tips dan ilmu, serta mendengar cerita yang tidak didapatkan di buku. Apalagi kalau traveling sendirian, kadang butuh seseorang untuk berbicara supaya tetap waras J

Buat perencanaan per hari, nggak perlu mendetail. Cukup poin-poin hari ini mau ke mana, naik apa, berapa lama di sana, dan bagaimana pulangnya nanti.
Saya dan peserta Free Yangon Walks, cuma bayar sukarela untuk guided tour seru! (image courtesy of Free Yangon Walks)

Gabung free walking tour di setiap kota. Tur ini bisa gratis karena mengandalkan tip sukarela dari pesertanya. Cukup googling “Warsaw (ganti nama kotanya) free walking tour” dan lihat website-nya. Nanti kita akan diberitahukan meeting point di mana dan jam berapa, serta ciri-ciri tur guide-nya. Selama di Yangon, saya ikutan Yangon Free Walking Tour untuk mengetahui sejarah dan cerita orang lokal mengenai tempat-tempat terkenal di sana. Luar biasa menarik dan kita bisa ngasi tips sukarela J

Menurut saya, jangan terlalu sibuk mengambil gambar dan selfie. Lihat, pandangi, dan saksikan kejadian dengan mata. Be present. This is your journey of a lifetime. Untuk mengingat, saya biasanya bawa travel diary, mendengarkan musik, dan menulis sendirian di taman, sambil merhatiin orang-orang datang dan pergi.

Gimana, mungkin tips saya bisa membantu untuk perjalanan kamu berikutnya. Kalau ada yang mau ditambahkan atau dikomentari, silakan isi kolom comment di bawah ya!

-@travelitarius the hardest part of traveling is a decision to go...
Read More
Mumpung lagi tidak banyak tugas dan hari ini adalah ulang tahun saya ke-26, saya menyempatkan diri untuk menulis pengalaman berharga dalam hidup saya. Tentang bagaimana saya mengambil keputusan untuk resign dari pekerjaan untuk traveling keliling Eropa. Cerita ini sih murni sharing, bukan bermaksud menginspirasi pembaca untuk ikut-ikutan resign juga, hehehe...

Rencana ke Eropa, apapun caranya, sudah saya rencanakan sejak zaman kuliah. Mimpinya sendiri dimulai ketika saya sebagai anak, banyak membaca buku-buku pengetahuan bergambar yang dibelikan orang tua. National Geographic USA adalah favorit saya dari kecil karena Papa berlangganan majalah itu. Walaupun saya nggak bisa membacanya karena belum lancar berbahasa Inggris, saya suka melihat-lihat gambarnya. Lalu karena di rumah ada parabola, saya menonton acara-acara asing setiap hari. Dunia luar begitu terekspos kepada saya. Pernah tinggal di Jayapura, Timika, dan Pontianak membuat wawasan saya tentang traveling semakin terbuka. Belum lagi sejak kecil saya sering diajak orang tua keliling Indonesia, menggunakan berbagai macam transportasi, mulai dari kapal Pelni, pesawat Garuda, pesawat Hercules, kereta api, dan yang paling sering mobil untuk road trip. Oooh, ternyata dunia ini luas!
Contoh foto powerful yang akhirnya menginspirasi saya untuk jalan-jalan
(Image courtesy of Lynsey Addario - National Geographic Magazine)
Geografi adalah mata pelajaran favorit saya. Sewaktu SD, saya hafal nama-nama dan ibukota negara-negara di dunia. Sekarang mah udah lupa. Nggak ada alasan penting sih kenapa suka geografi, suka aja liat peta dunia. Atlas adalah buku yang sering saya buka-buka berkali-kali dan buku yang rusak pertama kali karena seringnya saya pakai. Dan saya suka bermain "mencari kota" menggunakan atlas dengan adik saya. Tentu saja, waktu itu saya penasaran banget sama negara Uni Soviet (waktu itu atlas cetakan lama) yang raksasa dan diberi warna merah oleh penerbit. Negara apaan sih itu? Ada apa di dalamnya?

Rasa penasaran saya semakin ditambah dengan passion saya dengan arsitektur dan seni. Gereja Katedral dan Kawasan Kota Tua adalah bangunan yang saya kagumi karena sejarah dan desainnya. Saya pengen lihat lebih banyak lagi! Di mana lagi pusat arsitektur dan seni dunia selain di Benua Eropa? Saya pun sering meminjam buku-buku seni di perpustakaan sekolah. Saat teman-teman ngedumel setengah mati ketika mendapatkan tugas membuat maket rumah sesuai rancang bangun yang sudah dibuat, dan menatanya menjadi sebuah kota mini, saya melakukannya dengan senang hati. Miniatur rumah yang saya buat lengkap dengan cat warna-warni dan mobil-mobilan. Ketika akan lulus SMA, S1 Arsitektur UI adalah incaran saya karena passion saya yang begitu tinggi pada bidang ini. Eh, gak kesampean. Hiks. Yang penting masih UI deh, hehehe...

Kombinasi penasaran dengan dunia luar dan minat tinggi ke seni dan arsitektur akhirnya mengerucut menjadi sebuah rencana: saya harus bisa ke Eropa sebelum 26 tahun!

Ketika menjadi mahasiswa, saya berpikir keras bagaimana caranya saya ke Eropa. Karena masih mahasiswa miskin, mana mampu saya bayar sendiri ke sana. Akhirnya saya cari yang gratisan. Sempat diterima di International Youth Leadership Conference di Praha, namun tidak jadi berangkat karena nggak dapat sponsor. Sempet apply beasiswa summer course di Italia dan Portugal tapi gak lolos. Nggak putus asa, saya berjanji lulus tepat waktu, dapat kerja, nabung, dan pergi ke Eropa.

Setelah mendapatkan pekerjaan stabil yang pertama, saya langsung buka rekening tabungan yang nggak ada biaya administrasinya. Saya nggak mau hasil nabung susah payah dipotong setiap bulan. Selama 24 bulan, saya konsisten menabung 50% dari gaji, kalau ada uang lebih seperti THR dan bonus tahunan, nabungnya bisa lebih banyak. Susah? Banget. Ini adalah skala prioritas, saya sengaja nggak belanja banyak baju, sepatu, dan lain-lain karena lebih baik uang itu saya simpan.

Ajakan teman-teman untuk liburan ke luar kota juga sengaja saya skip karena prioritas saya adalah menabung. Saya nahan diri dengan mikir, "Uang itu mendingan buat lo makan di Eropa, Put." Yes, I was hard to myself. 

Ketika resign, bos saya mengapresiasi keberanian saya waktu itu. Dia melepas saya dengan kekaguman. Waktu itu saya nggak ada pikiran atau ketakutan apa pun kalau saya akan susah dapet pekerjaan lagi. Gimana enggak, kantor dengan fasilitas oke, bonus tahunan, sudah diangkat jadi karyawan tetap, mau apa lagi? Tapi saya, bos, dan teman-teman saya percaya bahwa life starts outside the comfort zone. Orang tua saya mendukung sepenuhnya, saya nggak pernah dilarang-larang pergi dan nyokap saya percaya sepenuhnya pada saya. The feeling was amazing, I could explore the world with everybody support me.

Dan, tercapailah mimpi saya... Pergi mengeksplor Eropa sebelum 26 tahun, sebelum hari ini...

Why I travel is because I want to travel, to know the unknown, to be further than anyone else, to find the essence of life, to find another home, to prove what people said are wrong, to push myself to the limit, to set my bar much higher than before, and to be me. 

-@travelitarius Peregrinaro, ergo sum. I travel, therefore I am.
Read More
Savvy traveler, atau traveler cerdas sering disebut-sebut beberapa tahun terakhir ini pada tren perjalanan. Apa sih yang dimaksud savvy traveler? Savvy traveler, menurut saya, adalah traveler yang berpikir dan bertindak cerdas untuk memudahkan perjalanannya, yang nantinya bisa menghemat uang, waktu, dan tenaganya. Apa aja sih yang dibawa oleh savvy traveler? Simak daftar saya berikut ini, sebagian besar saya lakukan sendiri di setiap perjalanan saya

Adaptor (image courtesy of travelshop.ie)
Universal Travel Adaptor. Belilah 1 buat investasi traveling jangka panjang. Tahu sendiri kan colokan listrik di berbagai negara beda-beda. Barang ini emang kecil, tapi kalo ketinggalan, bisa bikin senewen karena nantinya kita harus menyewa atau membelinya lagi di tempat tujuan hanya gara-gara colokan beda.

Power strip atau colokan T. Seringnya, kita sering menemukan colokan di tempat-tempat umum, seperti bandara atau hostel, tapi keseringannya colokan tersebut sudah diambil orang. Gimana kalo baterai ponsel kita lagi sekarat? Kalau kita punya power strip atau colokan T, selain bisa menyelamatkan ponsel sendiri, kita juga bisa jadi life-saver banyak orang, nambah temen juga kan, hehehehe.

Bawa e-books dibandingkan buku fisik. Memang, Lonely Planet Europe on a Shoestring atau Frommer’s Guide to Italy yang setebel buku dosa mencakup printilan yang cukup lengkap. Tapi buku itu terlalu berat untuk kita bawa-bawa, apalagi kalau traveling panjang, mereka hanya akan menambah beban di punggung kita saja. Zaman serba digital ini, lebih baik beli e-booknya dan simpan di tablet atau ponsel kita. Kalau takut kehabisan baterai saat pengen lihat guidebook, robek saja bagian yang kita butuhkan dari buku itu. Jadi kita hanya membawa yang benar-benar kita butuhkan. Eh, salah ya saran saya? Kok nyaranin ngerusak buku... Hehehe

Energy bar (image courtesy of womenpla.net)
Energy bar. Laper itu nggak terhindari, saya suka susah mikir kalau sedang lapar. Makanya, untuk perjalanan jauh, saya biasa bawa energy bar seperti Soyjoy atau Fitbar yang bisa mengganjal perut sebentar sebelum ketemu makanan lagi. Kenapa energy bar? Karena ukurannya kecil, lebih sehat, dan langsung mengenyangkan. Biasanya sih saya bawa untuk di pesawat buat cemilan atau kalau sedang dalam perjalanan ke kota baru yang memakan waktu lama.

Tisu basah. Kalau habis buang air di negara Barat, kita akan mengalami culture shock di mana mereka nggak punya semprotan kecil untuk membersihkan. Lalu kita pun bingung sendiri gimana cebok dengan bersih, kan kotor? Makanya selalu siapin tisu basah ukuran kecil di tas daypack karena buang air tanpa dicuci rasanya geli-geli gimanaaa gituh

Swiss Army Knife (image courtesy of swissarmy.com)
Swiss Army Knife. Saya rasa ini Holy Grail buat semua traveler. Dalam satu genggam, kita bisa dapat pisau, gunting, pinset, pembuka botol, pembuka wine, obeng, gergaji, sampai pulpen. Bukan promosi, tapi belilah yang merek Victorinox asli supaya long lasting bahkan bisa diwariskan. Setelah pernah ngintip dalamnya pabrik Victorinox di Swiss dari dokumenter National Geographic, saya jadi makin percaya kalau pakai merek ini dijamin durable karena terbuat dari bahan-bahan dan cara-cara terbaik.  Harga merek ini memang mahal, tetapi kalau kamu cuma traveler yang mengunjungi kota-kota seperti saya, belilah yang basic isinya gunting, pisau, dan pinset, sudah sangat kepake kalo jalan... Kalau sering beraktivitas outdoor, bolehlah beli yang segepok.. Masih wish list saya... Mahal soalnya... Hiks...

Senter. Percaya deh, kalo kita pulang malam-malam ke hostel dan mau beres-beres, pasti kita suka nggak enak menyalakan lampu, takut mengganggu penghuni lain. Senter sekarang gampang kita dapatkan, bahkan langsung dari flashlight kamera ponsel. Kalau saya, jaga-jaga kalau ponsel mati, saya siapkan senter bertenaga dinamo. Agak tolol sih, saya harus muter-muterin dinamonya kalo mau hidup... tapi bebas baterai, yang artinya kita gak perlu takut baterai habis.

Salinan nomor telepon penting. Tertulis di buku catatan. Nomor telepon asuransi perjalanan, nomor telepon rumah, telepon Kedutaan Republik Indonesia setempat, telepon kantor, teman dekat, dll. Things happen, jangan selalu mengandalkan ponsel untuk menyalin semuanya. Print-out juga itinerary kita. Walaupun zaman serba digital, tetap persiapkan yang terburuk misalnya baterai habis, ponsel kecopetan, dll. Mit amiiit...

Foto dan gambar! Ini penting banget buat bahan obrolan dengan teman-teman baru di perjalanan. Obrolan jadi lebih asik, dan teman baru kita akan kebayang apa yang sedang kita bicarakan. Foto dan gambar ini bisa apa aja, peta Indonesia, peta kota asal kita, rumah kita, orang tua dan saudara-saudara kita, sekolah, teman-teman... Misalnya, saya waktu itu kesulitan menjelaskan ciri-ciri fisik buah rambutan kepada teman saat jalan bareng.. atau ketika mau mendeskripsikan cara orang Indonesia berjilbab kepada teman saya yang penasaran... Internet dan gadget gak selalu kita dapatkan ketika berjalan.

Botol kosong. Iyap, you heard it right. Masuk pemeriksaan bagasi kabin pasti banyak yang ketangkep karena bawa botol minum yang ada isinya. Ya udah kosongin aja bro sis, setelah lewatin pemeriksaan, tinggal isi lagi. Sebagian besar harga minuman setelah pemeriksaan itu mahal banget. Kalaupun sudah sampai di tujuan, kita bisa terus bawa supaya menghemat uang tidak mengeluarkan uang untuk membeli minum. Sekarang sudah ada botol yang bisa dilipat merek Vapur, kalo kosong tinggal lipat.

Syal (image courtesy of beksanddesigns.com)
Syal. Saya nggak bisa traveling tanpa pakai syal. Pilihlah bahan syal yang cukup tebal dan lebar seperti pashmina. Syal itu super versatile dan manfaatnya banyak banget, bisa penahan dingin, alas duduk, seprai tambahan, penutup kepala, dan gayanya fashionable.

Plastik ziplock. Plastik ini banyak manfaatnya loh, bisa nampung makanan, sabun batangan untuk dipakai lagi, nyimpan ponsel supaya anti air, dan nampung printilan yang kecil-kecil. Bawalah beberapa lembar, you never know...

Sumbat wastafel. Mungkin pada bingung kenapa sumbat wastafel itu penting. Bagi traveler, apalagi cewek, nyuci itu krusial supaya bawa bajunya lebih sedikit dan selalu punya stok baju atau dalaman bersih. Saya setiap hari mencuci dalaman di wastafel, nah kadang ada wastafel yang tidak ada sumbatnya sehingga kita tidak bisa menampung air di dalamnya. Disinilah sumbat wastafel berperan.

Legging atau yoga pants. Selain syal, legging atau yoga pants adalah pakaian yang fleksibel. Bisa kita pakai untuk naik pesawat, sebagai celana dobelan kalau sedang dingin, celana tidur, bahannya cepat kering, ukurannya kecil, dan ringan. 

Baterai tambahan, terutama baterai kamera. Jangan sampai kita kehilangan momen untuk mengabadikan gambar hanya karena baterai. Siapkan 1 atau 2 buah baterai kamera cadangan tergantung konsumsi baterai oleh kamera kamu. Kalau cukup boros, bawalah 2 baterai cadangan dan pastikan semua sudah ke-charge penuh sebelum pergi jalan-jalan.

Duct tape (image courtesy of thephunion.com)
Selotip atau lakban. Things happen, better prepare for the worst. Nggak perlu bawa selotip segede lingkarannya, cukup bawa seperlunya, dililit di batangan seperti pulpen ekstra.

Payung. Bisa melindungi kita dari hujan dan panas. Kadang, kalau kita pergi ke kota yang fluktuasi cuacanya cepat, kita mau nggak mau selalu membawa payung. Kehujanan di Eropa di awal musim panas itu nggak enak, saya pernah. Terpaksa neduh, nggak bisa ke mana-mana karena harus menunggu hujan.

Dompet palsu. Mau di negara sendiri atau negara orang lain, kita akan selalu berpotensi diincar oleh copet atau penodong. Paris, Roma, Barcelona, Milan, Praha adalah kota-kota rawan copet. Siapkan dompet sederhana, isi dengan kartu-kartu nggak penting seperti kartu membership supaya terlihat seperti dompet beneran, dan selipkan lembaran-lembaran seperti uang. Dompet palsu ini adalah trik mengecoh pencopet supaya mereka mengambil dompet ini. Uang, kartu kredit, dan kartu debit kita yang asli, kita simpan dengan aman di money belt. Kalau kita, amit-amit, sampai ditodong oleh penjahat, kita bisa berikan saja dompet palsu ini sambil siap-siap ambil langkah seribu.

(Image courtesy of dropbox.com)
Back up digital. Back up semua dokumen-dokumen kamu di internet. Scan semua dokumennya, upload di cloud seperti Google Drive dan Dropbox. Selain itu, masukkan semua file digital ke flash disk. Cloud juga perlu kalo memori internal kamera kita kehabisan, kita bisa upload foto-foto terlebih dahulu sebelum menghapusnya. Buat jaga-jaga kalau shit happens misalnya kehilangan paspor.

Nah, itu saja dari saya, hal-hal yang biasa dibawa oleh savvy traveler. Apa kamu merasa sebagai savvy traveler dan ingin menambahkan sesuatu? Silakan isi kolom comment ya J

- @travelitarius being savvy is a lifestyle
Read More
Jadi traveler jaman sekarang emang enak banget, dengan dukungan smartphone dan aplikasi-aplikasi, perjalanan mandiri bisa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Saya nggak kebayang gimana traveler jaman dulu pergi ke travel agent, beli tiket yang berupa lembaran-lembaran kertas, lalu ketika jalan, bawa-bawa guidebook Lonely Planet atau Frommers setebel buku dosa.

Rasanya setiap traveler jaman sekarang pasti memiliki smartphone Android untuk sehari-hari, atau minimal laptop, untuk memudahkan ngurus printilan traveling. Mulai dari pesan tiket transportasi, mengecek prakiraan cuaca, memantau lalu lintas, atau sekedar memberitahukan kabar kepada keluarga. Tinggal cari wi-fi (karena saya miskin, gak bisa beli paket data), duduk, lalu langsung pantau harga tiket atau mengecek peta online.

Apa aja sih aplikasi Android yang wajib di-download traveler? Cekidot:

Tiket Pesawat? Skyscanner atau KAYAK
Aplikasi canggih pencari harga tiket pesawat dari berbagai maskapai di dunia, membuat kita mudah melihat harga termurah atau mencari yang tanpa transit. Canggihnya Skyscanner, bisa menampilkan harga selama setahun, sementara KAYAK kadang-kadang punya hacker deals yang nggak ditemuin di website mana pun. Kalau sudah dapat harga yang cocok, kita bisa langsung beli dan bayar pakai kartu kredit.
Tampilan aplikasi Skyscanner (Image courtesy of id.techinasia.com)
Tampilan aplikasi KAYAK (image courtesy of androidauthority.com)
City Guide? City Guide dari TripAdvisor
Aplikasi TripAdvisor sendiri saja sudah keren banget buat memandu kita untuk mengetahui "the best" dari setiap destinasi. Nah, dia juga mengeluarkan guide app per kota yang bisa kita download untuk dijadikan referensi perjalanan. Kota-kota besar di dunia yang menjadi destinasi utama turis di benua Eropa, Asia, Australia, dan Amerika sudah dibuat city guide-nya masing-masing. Saya suka mengikuti self-guided walking tour atau mencontek contoh itinerary yang mereka sarankan, khususnya itinerary yang off-the-beaten path. Bahkan, kalau uangnya memungkinkan, saya suka pergi ke restoran yang direkomendasikan. Misalnya waktu saya nyasar-nyasar nyari restoran Havelska Koruna di Praha atau Alfredo's yang terletak di gang kecil nyempil di Venice. Saya kepikiran ke makam Beethoven pun gara-gara saya tertarik setelah membaca review-nya di aplikasi Vienna City Guide. Semuanya jadi memudahkan, apalagi aplikasi ini punya peta offline, kita tinggal nyalakan GPS dan ikuti saja petunjuknya. Gak perlu lagi kan bawa-bawa guidebook tebel?
New York City Guide dari TripAdvisor (image courtesy of: intomobile.com)
Akomodasi? Booking.com
Kenapa Booking.com, padahal ada yang lain? Karena kalau memesan akomodasi via Booking.com, kita tidak perlu membayar apa-apa di muka dan pembatalan gratis. Pengalaman saya memesan hostel murah juga gampang banget, range akomodasi mereka mulai dari yang hostel murah sampai hotel bintang 5. Dan serunya lagi, dia suka ada secret deals yang kalo murah, bisa bikin ngiler!
Tampilan aplikasi Booking.com (image courtesy of: androidauthority.com)
Travel planner? TripIt
Kadang, kalo perjalanan kita cukup panjang, kita harus mengatur semuanya, mulai transportasi getting there, transportasi getting around, dan akomodasi... Detail semuanya, mulai dari berangkat dari mana jam berapa dan sampai di mana jam berapa, suka bikin kita overwhelmed. Aplikasi TripIt bisa ngebantu kita untuk merangkum itu semua ke dalam satu itinerary. Dan canggihnya, dia bisa men-scan email kita untuk menemukan email konfirmasi booking, lalu dengan otomatis memasukkkan detailnya ke dalam itinerary. Super.
Tampilan aplikasi TripIt (image courtesy of: androidcentral.com)
Budgeting? Money Lover
Sebenernya aplikasi personal finance ini saya pakai untuk keuangan sehari-hari, tapi ternyata berguna juga selama perjalanan. Setiap hari, sebelum tidur, saya rajin mencatat semua pengeluaran supaya saya tahu uang saya habisnya ke mana, hingga ke sen-sennya.
Tampilan aplikasi Money Lover - Expense Manager (image courtesy of: tech.firstpost.com)
Nilai tukar uang? XE
Aplikasi favorit sekaligus website andalan saya untuk mengcek nilai tukar mata uang dunia adalah XE. Selain aplikasinya user-friendly, interface-nya juga smooth sehingga kita bisa cepat membandingkan berbagai mata uang dalam 1 layar.

Kamus? Google Translate
Ini dia aplikasi favorit saya kalau mau ngecek bahasa asing di negara yang sedang kita kunjungi. Selain karena Google bisa mengucapkannya secara fasih sesuai pronunciation yang benar, kamus bahasanya bisa di-download sehingga sudah tidak perlu lagi online. Canggihnya, Google sudah meng-cover hampir semua bahasa-bahasa yang penting, sampai ada juga Basa Jawa.
Tampilan aplikasi Google Translate (image courtesy of: ilovefreesoftware.com)
Ensiklopedia online? Everywiki
Wikipedia udah jadi acuan pertama kita kalau ingin mengetahui sesuatu. Nah kenapa Everywiki ini penting untuk jalan-jalan? Karena di dalamnya terdapat Wikitravel, dan kita bisa search destinasi sesuai kota, negara, objek wisata, dll dari 1 aplikasi saja. Tahu sendiri kan, kalau Wikitravel itu coverage-nya keren banget, kita bisa mengetahui rekomendasi penginapan, restoran, cara ke suatu tempat, cara ke kota dari bandara, dll. Artikelnya pun bisa kita simpan sehingga bisa dibuka kembali kalau sedang tidak terhubung ke internet. Everywiki ini benar-benar membantu saya selama jalan-jalan.
Tampilan aplikasi Everywiki (image courtesy of ilovefreesoftware.com)
Gimana, semoga bermanfaat untuk next destination kamu ya... Mungkin ada yang ingin menambahkan? Bisa isi di-comment ya :)
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home