Showing posts with label Europe. Show all posts
Showing posts with label Europe. Show all posts
Mumpung lagi tidak banyak tugas dan hari ini adalah ulang tahun saya ke-26, saya menyempatkan diri untuk menulis pengalaman berharga dalam hidup saya. Tentang bagaimana saya mengambil keputusan untuk resign dari pekerjaan untuk traveling keliling Eropa. Cerita ini sih murni sharing, bukan bermaksud menginspirasi pembaca untuk ikut-ikutan resign juga, hehehe...

Rencana ke Eropa, apapun caranya, sudah saya rencanakan sejak zaman kuliah. Mimpinya sendiri dimulai ketika saya sebagai anak, banyak membaca buku-buku pengetahuan bergambar yang dibelikan orang tua. National Geographic USA adalah favorit saya dari kecil karena Papa berlangganan majalah itu. Walaupun saya nggak bisa membacanya karena belum lancar berbahasa Inggris, saya suka melihat-lihat gambarnya. Lalu karena di rumah ada parabola, saya menonton acara-acara asing setiap hari. Dunia luar begitu terekspos kepada saya. Pernah tinggal di Jayapura, Timika, dan Pontianak membuat wawasan saya tentang traveling semakin terbuka. Belum lagi sejak kecil saya sering diajak orang tua keliling Indonesia, menggunakan berbagai macam transportasi, mulai dari kapal Pelni, pesawat Garuda, pesawat Hercules, kereta api, dan yang paling sering mobil untuk road trip. Oooh, ternyata dunia ini luas!
Contoh foto powerful yang akhirnya menginspirasi saya untuk jalan-jalan
(Image courtesy of Lynsey Addario - National Geographic Magazine)
Geografi adalah mata pelajaran favorit saya. Sewaktu SD, saya hafal nama-nama dan ibukota negara-negara di dunia. Sekarang mah udah lupa. Nggak ada alasan penting sih kenapa suka geografi, suka aja liat peta dunia. Atlas adalah buku yang sering saya buka-buka berkali-kali dan buku yang rusak pertama kali karena seringnya saya pakai. Dan saya suka bermain "mencari kota" menggunakan atlas dengan adik saya. Tentu saja, waktu itu saya penasaran banget sama negara Uni Soviet (waktu itu atlas cetakan lama) yang raksasa dan diberi warna merah oleh penerbit. Negara apaan sih itu? Ada apa di dalamnya?

Rasa penasaran saya semakin ditambah dengan passion saya dengan arsitektur dan seni. Gereja Katedral dan Kawasan Kota Tua adalah bangunan yang saya kagumi karena sejarah dan desainnya. Saya pengen lihat lebih banyak lagi! Di mana lagi pusat arsitektur dan seni dunia selain di Benua Eropa? Saya pun sering meminjam buku-buku seni di perpustakaan sekolah. Saat teman-teman ngedumel setengah mati ketika mendapatkan tugas membuat maket rumah sesuai rancang bangun yang sudah dibuat, dan menatanya menjadi sebuah kota mini, saya melakukannya dengan senang hati. Miniatur rumah yang saya buat lengkap dengan cat warna-warni dan mobil-mobilan. Ketika akan lulus SMA, S1 Arsitektur UI adalah incaran saya karena passion saya yang begitu tinggi pada bidang ini. Eh, gak kesampean. Hiks. Yang penting masih UI deh, hehehe...

Kombinasi penasaran dengan dunia luar dan minat tinggi ke seni dan arsitektur akhirnya mengerucut menjadi sebuah rencana: saya harus bisa ke Eropa sebelum 26 tahun!

Ketika menjadi mahasiswa, saya berpikir keras bagaimana caranya saya ke Eropa. Karena masih mahasiswa miskin, mana mampu saya bayar sendiri ke sana. Akhirnya saya cari yang gratisan. Sempat diterima di International Youth Leadership Conference di Praha, namun tidak jadi berangkat karena nggak dapat sponsor. Sempet apply beasiswa summer course di Italia dan Portugal tapi gak lolos. Nggak putus asa, saya berjanji lulus tepat waktu, dapat kerja, nabung, dan pergi ke Eropa.

Setelah mendapatkan pekerjaan stabil yang pertama, saya langsung buka rekening tabungan yang nggak ada biaya administrasinya. Saya nggak mau hasil nabung susah payah dipotong setiap bulan. Selama 24 bulan, saya konsisten menabung 50% dari gaji, kalau ada uang lebih seperti THR dan bonus tahunan, nabungnya bisa lebih banyak. Susah? Banget. Ini adalah skala prioritas, saya sengaja nggak belanja banyak baju, sepatu, dan lain-lain karena lebih baik uang itu saya simpan.

Ajakan teman-teman untuk liburan ke luar kota juga sengaja saya skip karena prioritas saya adalah menabung. Saya nahan diri dengan mikir, "Uang itu mendingan buat lo makan di Eropa, Put." Yes, I was hard to myself. 

Ketika resign, bos saya mengapresiasi keberanian saya waktu itu. Dia melepas saya dengan kekaguman. Waktu itu saya nggak ada pikiran atau ketakutan apa pun kalau saya akan susah dapet pekerjaan lagi. Gimana enggak, kantor dengan fasilitas oke, bonus tahunan, sudah diangkat jadi karyawan tetap, mau apa lagi? Tapi saya, bos, dan teman-teman saya percaya bahwa life starts outside the comfort zone. Orang tua saya mendukung sepenuhnya, saya nggak pernah dilarang-larang pergi dan nyokap saya percaya sepenuhnya pada saya. The feeling was amazing, I could explore the world with everybody support me.

Dan, tercapailah mimpi saya... Pergi mengeksplor Eropa sebelum 26 tahun, sebelum hari ini...

Why I travel is because I want to travel, to know the unknown, to be further than anyone else, to find the essence of life, to find another home, to prove what people said are wrong, to push myself to the limit, to set my bar much higher than before, and to be me. 

-@travelitarius Peregrinaro, ergo sum. I travel, therefore I am.
Read More
This is the post you've been looking for!

Karena saya capek ngejawab pertanyaan yang sama "Habis berapa lo?" dari orang-orang, akhirnya saya memutuskan untuk membuat post ini. Buat yang baru pertama kali baca blog ini, mohon rincian per hari dibaca dulu dengan label "15 Euros Per Day". 

Karena budget per hari cuma EUR 15 : 15 x 50 hari = EUR 750. Saya bawa cash EUR 750 euro dan USD 250 untuk dana darurat. 

SPENTCARRY32010605
1623289215777713
Tiket pesawatAirport tax Cengkareng150000150000
CGK-KUL-CGKJT1178900Logistik dan transportasi per hariEUR15/day12000000
KUL-CDG-KULMH10282000Tukar uang di PolandiaUSD50585349
Travel Insurance LippoUSD 91.91035805Tukar uang di CzechUSD50585349
Visa Schengen950000Tukar uang di ItaliaUSD1001170699
Ground TransportationTarik tunai di KroasiaHRK200455787
PAR-AMS MegabusGBP12.50244082Tarik tunai di PrancisEUR50830529
AMS-BRU MegabusGBP12.50244082
BRU-AAC Go Pass 1EUR7.80128075
4 trip PolskiBus POZ-WAW-KRA-WROPLN157625588
2 trip Student AgencyCZK430260744
1 trip Student AgencyEUR9150340
Booking Venice hostelGBP4.3187791
1 trip iDBUS ke ParisEUR35570711
1 trip DRD ke VeniceEUR25409981
Booking Milan hostelGBP3.1864793

Yep, total pengeluaran sebesar Rp 32.000.000 untuk backpacking 50 malam di Eropa. Saya membagi dua pengeluaran, spent dan carry. Spent adalah jenis pengeluaran yang dibayar lunas sebelum atau ketika traveling, kebanyakan pakai kartu kredit, seperti Ground Transportation. Carry adalah jenis pengeluaran dengan membayar uang cash yang dibawa, termasuk tarik tunai darurat di Kroasia dan Paris.

Gimana, murah atau mahal? Ada pertanyaan atau komen? Isi di bawah ya! :)

-@travelitarius I'm possible
Read More
Kadang, tiket pesawat bisa memakan setengah dari budget jalan-jalan kita. Apalagi destinasi wisata kita yang jauh banget seperti Eropa atau Amerika Serikat. Minimal biaya yang harus kita keluarkan hanya untuk tiket pesawat adalah USD 800, itupun kalo dapet harga promo. Dulu AirAsia X pernah melayani rute Kuala Lumpur ke Paris direct yang kalo promo, kita bisa dapet 6 jutaan sudah pulang pergi. Murah banget kan! Tapi rute tersebut sudah ditutup, mau enggak mau kita harus pakai full board airlines.

Untuk tujuan Eropa, harga murah tiket pp full board airlines ada di kisaran USD 800 - 1100, kurang dari itu, langsung sikat beli aja! Lebih dari itu, cari alternatif lain. Saya sendiri mendapatkan tiket pulang pergi Kuala Lumpur ke Paris direct menggunakan Malaysia Airlines seharga 10 jutaan rupiah, kalau ditambah Jakarta ke Kuala Lumpur yang 1 jutaan, harga totalnya masih masuk budget saya yang USD 1000 (asumsi USD 1 = Rp 12.000). Nah, gimana caranya supaya kita bisa dapet tiket di kisaran harga tersebut? 

1. Maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar, Saudi Arabian, dan Etihad biasanya lebih harganya lebih murah daripada maskapai Eropa atau Asia seperti Air France, British Airways, KLM, Lufthansa, Singapore Airlines, Cathay Pacific, atau Garuda Indonesia. Tapi ini nggak selalu pasti, seringkali saya sering mendapatkan harga tiket pp Jakarta ke Frankfurt seharga USD 700-an dari Lufthansa, tapi jangka waktu pembeliannya lebih dari 3 bulan, kalau belum confident dapat visa, pembelian impulsive seperti itu bisa berisiko karena visa belum tentu dapet. Kalau kamu yakin dapat visa sampai 70%, beli saja. 

2. Sesuaikan periode terbang dengan musimnya. Misalnya, bulan Juni sampai Agustus adalah musim liburan, makanya harga tiketnya juga akan lebih mahal karena permintaan tinggi. Pilihlah musim sepi (low season) seperti dari bulan Desember ke Maret. 

3. Manfaatkan website pencari tiket multi maskapai seperti www.skyscanner.co.id atau www.kayak.com yang bisa ngasi alternatif harga. Saya pernah nemu tiket murah banget dari Vietnam Airlines dan Saudi Arabia tujuan Eropa, 8 jutaan rupiah saja, dari website seperti ini. Skyscanner bahkan bisa merekomendasikan tanggal harga murah sepanjang tahun. Sementara Kayak punya fitur "explore" yang bisa nampilin semua harga ke semua tujuan di dunia kalau kita memasukkan tanggal dan kota keberangkatan. Bagus banget untuk compare kota tujuan di Eropa karena selisihnya bisa lumayan banget lho! 
Fitur explore Kayak.com
4. Jangan lupa juga, sign up newsletter dari semua maskapai besar. Walaupun maskapai full board, kalau sedang promo, harganya bikin ngiler juga loh! 

5. Datangi travel fair. Travel fair favorit saya adalah Astindo Travel Fair yang biasa diadakan setiap tahun di bulan Maret karena partnership maskapainya sangat banyak sehingga banyak tiket murah! Seringnya, Qatar Airways menawarkan tiket pp ke Eropa di kisaran USD 800-an. Happy Hour-nya Garuda Travel Fair juga oke kok, temen saya pernah dapet tiket ke Jepang 6 jutaan pp, Garuda lagi. 

6. Baca koran, khususnya Kompas Kamis, hari di mana informasi traveling banyak dimuat. Seringnya, para travel agent pasang iklan untuk promosi harga tiket kalau beli dari mereka. Kalau dapat yang diminati, langsung kontak travel agent tersebut di cabang terdekat. Kadang, harga yang tercantum di koran belum termasuk pajak ya, hubungi travel agent untuk informasi jelasnya. 

7. Saya sarankan apply visa nggak terlalu mepet, 3 bulan sebelumnya kamu sudah bisa mengajukan aplikasi visa. Nah, jika sudah dapat, dalam rentang waktu 3 bulan itu kita masih sempat cari tiket murah dan pilihan harga masih banyak. Seringnya, kalau beli mepet, harganya sudah beda jauh atau kursinya habis, apalagi pas musim liburan.

8. Sering-sering eksperimen cari tiket murah di Skyscanner atau Kayak dengan memodifikasi kota keberangkatan atau kota tujuan. Misalnya, saya mendapatkan tiket murah dari Kuala Lumpur ke Paris menggunakan Malaysia Airlines dengan harga jauh lebih murah dari pada berangkat dari Jakarta. Etihad juga sering murah kalau berangkat dari Kuala Lumpur. Kalau dari Singapore, yang termurah adalah FinnAir dengan transit di Helsinki, direct dari Changi. Sementara untuk kota tujuan, ganti-ganti dengan Paris, Roma, Amsterdam, Frankfurt, Brussels, Budapest, Oslo, atau Milan. Trust me, salah satu dari mereka bisa selisih lumayan dengan yang lain.

Tiket murah itu ada, tinggal kitanya aja yang pinter nemuin jarum di tumpukan jerami. Duileh. Haha.

-@travelitarius google it before ask, agree?
Read More
Kalo Paris punya Pere Lachaise Cemetery yang dijadiin destinasi turis buat nyekar makam Jim Morrison dan banyak orang terkenal lain, Vienna juga punya. Kalau mau coba wisata yang aneh-aneh di Vienna, silakan kunjungi Zentralfriedhof (Central Cemetery) yang terletak di kawasan Simmering. Kompleks makam ini adalah salah satu yang terbesar di dunia dengan luas 2.4 km persegi dan lebih dari 3 juta orang dikubur di sini. 2 kali lipat lebih banyak dari penduduk Vienna yang masih hidup. Bayangin gedenya kayak apa, halte tram-nya aja ada 3 buat masing-masing pintu gerbang!

Tor 2: Pintu kedua dan utama, kalau mau langsung ke Beethoven, masuk melalui pintu ini saja
Dibuka pada tahun 1874, kompleks makam ini terbagi-bagi ke beberapa agama seperti Katolik Roma, Protestan (termasuk Lutheran dan Calvinism), Yahudi, Islam, beberapa aliran Ortodox (Rusia, Yunani, Romania, Bulgaria, Serbia, Koptik), dan Buddha, yang terakhir ditambahkan pada 2005. 

How to get there
Naik tram no 6 , 72, atau 71 dari pusat kota Vienna dan turun di Zentralfriedhof Tor 2, pintu kedua sekaligus pintu utama. Karena kompleks ini besar sekali, lebih baik langsung turun di pintu kedua karena sudah dekat sekali dari makam Beethoven. 

Naik tram 72, 71, atau 6 dan turun di Zentralfriedhof Tor 2
Nggak cuma Beethoven saja yang dikubur di sini, terdapat section khusus kuburan musisi atau komposer. Brahms, Strauss I dan II, Schubert, dan lainnya yang saya nggak pernah dengar. Terdapat juga monumen untuk Mozart, tetapi Mozart tidak dikubur di sini (makam yang sebenarnya tidak ada yang tahu).

Musiker section, tempat di mana sebagian besar komposer terkenal dikubur
Ini dia musiker section!

The most visited tomb: Beethoven's
Strauss dan Brahms


Kalau saya sendiri sih, kompleks makam ini nggak ada serem-seremnya soalnya kuburannya bagus-bagus banget. Beberapa keluarga bangsawan malah udah membeli lahan untuk makam anggota keluarganya, bahkan untuk yang masih hidup. Saya heran sama bangsa Eropa, semua sudut dibuat karya seni sampai makam pun punya nilai seni tinggi. Beberapa patung serumit benda museum Louvre loh. Hebat!

Kuburan entah siapa, yang penting cakep
Salah satu contoh kuburan keluarga
Random tombs

Another random sections
Menurut saya, tempat in recommended kalau udah nggak tahu mau ke mana lagi di Vienna. Selain kita bisa bawain bunga untuk Beethoven, aura tenang dan sepi dari turis bisa bikin sedikit rileks. 

-@travelitarius cemetery, what an off-beaten path to explore a city

Read More
Day 2: 9 Juni 2014

Akhirnya penerbangan menyiksa selama 13 jam selesaaaai! Capek luar biasa, padahal duduk dan makan doang. Saya sampai di Charles de Gaulle Airport (CDG) Terminal 1 jam setengah delapan pagi hari, dan siap-siap menghadapi imigrasi Prancis! Terminal 1 ini kecil, berbentuk lingkaran, dan langit-langitnya rendah. Sampai ke gedung terminal, saya ikutan mengantri imigrasi yang sangat panjang untuk antrian paspor non-EU. Bandara utama kota Paris tersebut terletak sekitar 25 km dari kota dan bandara kedua tersibuk di Eropa setelah London Heathrow. Untuk ke kota, saya memilih menggunakan RER B (biaya 10 euro-2015), sudah termasuk transfer ke metro, dan memakan waktu 40 menit. 

CDG terminal 1: on my way to immigration!
Looooooong queue
Setelah mengantri paling tidak 45 menit, tiba giliran saya maju ke loket imigrasi, "Bonjour," sapa saya dengan pengucapan Bahasa Prancis asal-asalan. Petugas ngeliat muka saya sebentar, mencocokkan dengan visa, lalu cap cap cap, selesai. Hah, gitu doang? Nggak ditanya apa-apa? Horeee... masuk Eropa! Berikutnya, ambil bagasi dan bongkar plastic wrap-nya! Menurut lo gampang bongkar plastic wrap dengan pulpen? Saya jadi tontonan orang di bandara pas ngebongkar lilitan plastik lengket itu, bener-bener nggak praktis. 

Bongkar plastic wrap pake pulpen biar greget
Untuk naik RER B, kita harus ke terminal 3 dulu menggunakan shuttle train gratis CDGVAL. Ikuti saja petunjuk arah menuju CDGVAL. Sampai ke stasiun RER B di terminal 3, saya membelanjakan euro pertama saya dengan tiket RER dan carnet (10 lembar single ticket). So far so good karena saya sudah pernah lihat instruksi naik CDGVAL dan RER di YouTube. 

Dalam kereta RER, saya menemukan bahwa populasi kulit hitam di Prancis sangat banyak, sebagian besar mereka adalah imigran Afrika yang sudah turun temurun tinggal di Paris. Di dalam kereta ini juga, saya menemukan pengemis dengan membagikan amplop bertuliskan kata-kata sedih. Iiiiih, Indonesia banget!

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di post tentang metro Paris, rute metro dan RER memang sangat rumit kalau dilihat di peta. Tetapi, setelah beberapa saat orientasi, ternyata sangat mudah navigasi rute. Saya transfer ke metro di Cluny La Sorbonne, dan turun di stasiun metro Charles Michels. Sesampainya di gedung apartemen Francois, saya lalu bingung, gimana caranya ngebel? Saya asal pencet tombol di depan pintu, sampai tiba-tiba ada yang keluar, lalu saya menyelinap masuk. 

Petugas concierge apartemen Francois guanteng. Mukanya tipikal cowok Prancis yang di film-film. Sayang nggak bisa Bahasa Inggris, jadi nggak bisa digoda, haha. Backpack saya dititipkan ke ruang penitipan concierge, lalu saya pakai toilet umum untuk bersih-bersih muka dan sikat gigi. Setelah selesai, EXPLORE PARIS!

Apartemen Francois deket banget sama Eiffel Tower, dan itu tujuan pertama saya. Cuaca waktu itu cukup enak untuk jalan-jalan, angin sejuk dan matahari hangat. Pertama kali melihat Eiffel Tower, saya langsung terharu. Maaak... aku sampe di Eiffel, maaak...

Happy face
Karena masih capek, saya cuma muter-muter Eiffel Tower, Trocadero, dan Arc de Triomphe. Capek jalan kaki, akhirnya saya naik bus sepanjang Sungai Seine untuk melihat kota dengan cepat. Sorenya, saya menunggu Francois pulang kerja jam 4 sore di Mal Beaugrenelle yang terletak persis di depan gedung apartemennya. Langsung nyari wifi gratisan buat ngabarin orang rumah. 

Saya menghabiskan sore dan malam bersama Francois dan keluarganya. Kami banyak mengobrol tentang negara masing-masing. Malam itu saya tidur cepat karena masih jet lag, bersiap-siap tenaga untuk besok jalan lebih jauh lagi!

-@travelitarius visions are worth fighting for


Read More
Day 1: 8 Juni 2014

Selama 50 hari ke depan, saya akan menulis 1 hari 1 post tentang travel diary saya selama traveling ke Eropa sendirian. Diary ini saya compile dari buku diary yang pernah saya bawa-bawa ke sana, kejadian, kesialan, kesan, cerita, dan semua yang pernah terjadi selama di sana. Mungkin saya akan malas luar biasa menulis setiap hari, tetapi ini sebagai aksi melawan lupa dan berbagi cerita ke pembaca. 

Tepat 1 tahun yang lalu saya sedang dalam perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta Terminal 2 untuk PERGI KE EROPAAAH! Penerbangan akan dibagi menjadi 2 leg. Leg 1 Jakarta ke Kuala Lumpur menggunakan Lion Air JT280 keberangkatan pukul 11:40. Leg 2 Kuala Lumpur ke Paris menggunakan Malaysia Airlines MH20 keberangkatan pukul 23:40 waktu setempat. 

Saya diantar oleh sekeluarga saya ke bandara. Waktu itu perasaan saya campur-campur, ada sedih, senang, khawatir, takut, dan semangat. Jujur saja, waktu itu lebih banyak takutnya dari pada senangnya. Mungkin kalau saya punya teman jalan, saya nggak akan setakut itu. Tapi saya selalu mikir ini di kepala, "... remember why you are started... remember...

Selfie before farewell!
Setelah memeluk keluarga saya untuk berpamitan dan meminta doa kepada orang tua, saya pun masuk ke check-in hall terminal 2. Kali ini saya benar-benar sendirian. Saya terus-menerus melihat keluarga saya yang sedang berjalan keluar terminal, ada perasaan ingin menyerah saja saking takutnya. Tapi untung kaki saya nggak pernah dengerin otak, dia jalan terus sampai ke konter check in dan ke gate keberangkatan. 

So far so good. Saya sampai di KLIA2 yang alaihim gedenya dengan berjalan santai sambil foto-foto runway. Waktu itu, saya nggak cukup banyak uang buat pergi ke pusat kota KL walaupun transit 9 jam-an. Saya keliling bandara aja sambil ngenet dan nulis diary di KFC. Bosen ngenet, saya mulai mendatangi toko-toko buku dan membaca. Pindah ke KLIA, saya langsung saja check in MH20 walaupun jam keberangkatan masih sekitar 5 jam lagi. Bosen, saya tiduran di viewing gallery, ngeliatin pesawat pada parkir dan pergi. 

Viewing gallery KLIA2 cuma ngeliatin A320 doang, sih, hehehe
MH boarding pass
Pesawat yang saya naiki adalah pesawat komersial terbesar di dunia, A380-800! Yihaaa... akhirnya kesampaian juga naik mama bird ini! 

A380-800, the biggest commercial aircraft in the whole planet (image courtesy of www.planes.cz)
Pesawat full 2 lantai ini melayani rute London Heathrow dan Paris CDG untuk maskapai MH. Kalau ditanya, "Lu nggak takut naik MH?" karena memang waktu itu MH370 baru-baru saja hilang, saya jawab aja "Bismillah aja. Lagian, lebih besar peluangnya gue mati dalam perjalanan ke bandara dari pada pas di pesawat." Eh, beneran loh, ada statistiknya. 

Saya suka bandara dan stasiun karena di dua tempat itu, banyak cerita dan kebahagiaan. Traveler pergi ke tempat yang baru, keluarga yang mengunjungi satu sama lain, teman yang lama tidak bertemu, atau perjalanan pulang ke rumah. 

Pas saya sudah duduk anteng di deket gate, petugas memberitahukan bahwa gate dipindah dan penerbangan ditunda 45 menit! Apaah? Saya langsung WhatsApp Francois, host Couchsurfing saya di Paris dan memberitahukan bahwa saya akan terlambat datang. Awalnya, saya akan bertemu dia sebelum berangkat kerja. Lalu, karena delay, Francois bilang, taruh saja backpack saya di concierge apartemennya karena dia akan sudah pergi bekerja dan akan kembali sore hari. Oke, problem settled dan saya sudah tahu caranya dari Charles-de-Gaulle Airport ke apartemennya. 

Selama 13 jam perjalanan non stop dari KL ke Paris, MH memberikan 2x makan besar. Sekali dinner dan sekali breakfast, lengkap dengan appetizer, desert, dan snack. Kursinya cukup luas, diberikan bantal dan selimut, minuman non-stop, dan cabin crew-nya helpful. 13 jam itu saya nggak bisa tidur karena masih khawatir sama perjalanan panjang ini, lalu saya habiskan untuk menonton film dan serial dari AVOD yang ada di tiap kursi. 

Off we go to Paris!

-@travelitarius I found happiness in the simplest of things
Read More
Previous PostOlder Posts Home