Showing posts with label Slovenia. Show all posts
Showing posts with label Slovenia. Show all posts
Siapa di sini yang suka viewing point? *ngacung*. Siapa di sini yang suka gratisan? *ngacung*

Di sela ngumpulin niat untuk nulis tesis yang tak kunjung ada, kali ini saya menulis tentang viewing point gratisan di kota-kota Eropa yang pernah saya datangi. Melihat kota dari atas itu luar biasa, rasanya kecantikannya bertambah berkali lipat dan kita jadi punya perspektif baru dalam melihat suatu kota. Viewing point yang saya maksud adalah tempat tinggi yang dapat kita jadikan spot melihat kota dari atas.

Di mana-mana, yang namanya menuju ketinggian atau melihat sesuatu dari atas, pasti bayar. Naik ke Monas, bayar. Naik ke bar di pencakar langit Jakarta juga bayar. Apalagi naik Eiffel Tower? Nah, semoga panduan dari saya kali ini bisa membantu para desperate backpacker kayak saya untuk melihat kota dari atas, gratis. 

Paris
Di kota besar yang luar biasa cantik ini, ada dua tempat yang bisa kita datangi: Galeries Lafayette dan Basilica du Sacre Coeur.

Rooftop Galeries Lafayette: mal ini biasanya banyak orang Asia-nya karena mereka ras di dunia yang paling doyan belanja, hahaha. Bahkan saya pertama kali ketemu orang Indonesia di Eropa, ya pas di mal ini. Berbeda dengan mereka, saya nggak beli produk-produk fashion dan kecantikan yang mereka jual, tapi saya langsung cari eskalator menuju lantai teratas, rooftop-nya.
Opera, dilihat dari rooftop Lafayette
Teras Basilica du Sacre Coeur, di Montmartre: mengunjungi basilika ini plus-plus, gereja keren banget, view-nya oke punya, ada Moulin Rouge tempat berfoto di depannya, banyak toko-toko suvenir murah, dan suasana Montmartre ngangenin. Kalau kita ke basilika ini, kita akan cukup mendaki ke atas karena letaknya memang di bukit. Worth the energy, the view is stunning. Walaupun Eiffel Tower nggak kelihatan di horizonnya, tapi kita bisa melihat Paris dari atas dan gratis. 
Paris dari teras basilika, mendung karena sehabis hujan
Berlin
Gesunbrunnen Bunker: Ada 1 tempat gratis dan bersejarah yang bisa didatangi sewaktu di Berlin. Secara pribadi, saya belum pernah ke sini karena tidak sempat, but I googled it for you. Nama tempat itu adalah Gesundbrunnen Bunker, salah satu bunker Jerman yang masih bertahan berdiri tegak. Terhubung stasiun U-Bahn, jadi tempat ini gampang dicapai. Balkonnya di menara pantau paling atas bisa diakses gratis.
Menara pemantau di bunker (image courtesy of herbnl - Flickr account)
Wroclaw
Wroclaw University: Sebenernya karena host saya mahasiswa di sini, jadinya saya bisa diselundupin masuk ke menara tertinggi Wroclaw University, hehehe. Menarik banget muter-muter di dalam universitas ini. Duh, jadi kangen Eropa... :(
View dari puncak menara Wroclaw University
Praha
Prague Castle: Berkunjung ke Praha, harus mampir Prague Castle. Titik, gak ada tapi-tapi. Selain kompleks kastilnya luar biasa besar dan bersejarah, kita bisa muter-muter di dalemnya dan melihat view sebagus ini. Kalo beruntung. kita bisa nonton proses pergantian castle guard, mirip yang ada di Inggris. Kece berat, walaupun tentara Ceko. Loh.
View dari Prague Castle
Bratislava
Bratislava Castle: Saya perhatikan, hampir semua ibukota atau kota yang dulu pernah menjadi ibukota negara di Eropa Tengah atau Timur pasti memiliki kastil besar di puncak bukit, salah satunya di Bratislava. Nah, halaman-halaman kastil tersebut biasanya luas banget dan gratis, dari sini kita bisa melihat skyline kota. Tjakep.
View dari halaman Bratislava Castle, kalau naik ke menaranya pasti akan lebih bagus, tapi bayar :)
Budapest
Kompleks Buda Castle: karena Budapest terbagi menjadi dua, Buda dan Pest, lebih baik melihat kota ini dari sisi Buda yang berbukit. Sisi Pest datar saja tanpa ada bukit, sehingga kalau mau nyari viewing point pun harus dari puncak bangunan, yang pasti akan bayar. Ada 2 tempat yang bisa didatangi selain kompleks Buda Castle, yaitu Gellert Hegy.

Hanjeeer, Budapest emang my favorite city!
Gellert Hegy: artinya Gellert Hill, memang sebuat bukit menjulang setinggi 235 m (hampir dua kali tinggi Monas) menghadap Sungai Danube. Bukit ini dinamakan dari Saint Gerard yang dibunuh dari bukit ini menuju jurang di bawahnya. Sekarang di sekitar Gellert Hegy adalah rumah-rumah mewah milik pejabat dan duta besar yang bertugas di Budapest. Yaiyalah, view-nya aja priceless begitu.
Skyline Budapest dengan Sungai Danube yang memisahkan Buda (kiri) dan Pest (kanan)
Ljubljana
Ljubljana Castle: as mentioned above, a castle in the hill.

Roma
Terazza del Pincio: teras ini sebenernya adalah sebuah balkon yang menghadap ke Piazza san Popolo. Teras ini luas, saya suka berlama-lama di sini memperhatikan orang :)
Piazza del Popolo, yang pernah masuk film Angels and Demons :)

last, but not least...

Florence
Piazza Michaelangelo: the best piazza I ever been! Mungkin karena Florence, mungkin karena skyline di sini begitu perfect, mungkin karena sunset di sini luar biasa indah... Duh, kangen Florence.

The sunset that I really miss...
That's all folks! 9 kota di Eropa yang pernah saya datangi yang mempunyai viewing point gratis untuk melihat skyline kota. Aren't they all beautiful? 
Read More
Day 34: 11 Juli 2015

Free walking tour adalah salah satu kegiatan seru yang bisa kita ikutin kalau baru pertama kali datang ke suatu kota. Selain karena mereka meng-cover tempat-tempat penting dan bersejarah, kita bisa ketemu teman-teman baru dari berbagai negara, tahu tentang gosip atau cerita lokal, dan enaknya kita bisa ngasi tip semampu kita. Sewaktu di Ljubljana, saya sempatkan diri untuk mengikuti free walking tour yang menjadi pelopor free walking tour di Eropa dan menduduki peringkat 1 di TripAdvisor Things To Do in Ljubljana. 

Seperti semua free walking tour, jadwal dan meeting point mereka sudah fixed setiap hari. Kamu tinggal cek ke website mereka masing-masing dan langsung datang saja tanpa reservasi. Kalau Ljubljana Free Tour ini meeting point-nya di depan Pink Church di Preseren Square, sangat strategis di Ljubljana yang kecil ini. Tur berjalan setiap jam 11 siang dan 3 sore, cari guide mereka yang selalu berkaos kuning. Hari itu kami ditemani Tina, tur guide berlisensi dengan PhD dari Ilmu Sosiologi di University of Ljubljana. Nggak heran kalau kita akan mendapat buanyak banget informasi dan cerita dari Tina tentang kotanya ini. Gratisan sih gratisan, tapi guide-nya bermutu!
Our cheerful guide: Tina! (maaf dari belakang fotonya, hehe)
Setelah registrasi di depan Pink Church, kami pun mulai berjalan. Tur yang akan memakan waktu kurang lebih 2 jam ini akan meng-cover bangunan-bangunan penting yang ada di sini, kecuali Ljubljana Castle. Di awali dengan cerita singkat kota Ljubljana yang artinya "beloved", kota ini jadi nggak kalah romantis dengan Paris. Lalu ada cerita cinta tak sampai sastrawan negara, France Preseren, yang patungnya ada di main square tersebut. Jarang-jarang sastrawan dijadikan patung utama di square utama lho, biasanya kan pahlawan, raja, ratu, atau paus. 
Pink Church, meeting point kami, dilihat dari Triple Bridge
Pink Church (Fransiscan Church of Annunciation)
Lalu cerita Tina berubah menjadi tentang Jose Plecnik, sang maestro arsitektur Slovenia yang punya andil besar merancang Ljubljana. Karya Plecnik sekarang bisa kita lihat di seantero kota, seperti Triple Bridge, perpustakaan nasional Slovenia, The Fish Market, sampai gedung parlemen Slovenia. Bisa dibilang, Ljubljana ini sebagai Plecnik City
Fasad samping perpustakaan nasional Slovenia, karya Plecnik
Lalu perjalanan dilanjutkan ke kantor walikota Ljubljana, di situ Tina bercerita tentang sistem pemerintahan di Slovenia. Lagi asyik-asyik ngobrol, tiba-tiba keluar bapak-bapak gemuk menyapa Tina dan bilang pada kami dalam bahasa Slovenia, kurang lebih begini, "You have visited the most beautiful city in the world!" Pas bapak-bapak itu menjauh, Tina nyeletuk, "That's the Mayor of Ljubljana." Serentak kami, "Oooh!"

Tadi itu bener-bener Zoran Jankovic, walikota Ljubljana! Santai banget ngeloyor keluar dari kantornya pakai kemeja santai dan jins, jalan ke jalan umum seperti orang biasa. Pak Zoran ini awalnya adalah seorang businessman yang punya jaringan Mercator, sejenis Alfamart di sini. Beliau pernah menjabat sebagai walikota selama 1 periode, lalu mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri Slovenia namun gagal, kemudian kembali menjabat sebagai walikota. Pak Zoran adalah satu-satunya walikota yang menjabat dalam 2 periode sejak Perang Dunia II. Tina bilang, di sini, saking kecilnya kota ini (cuma 250.000 jiwa) pejabat pun membaur dan hang out di kafe dengan orang biasa.

Dari sana, kita diajak ke Dragon Bridge, Ljubljana Cathedral, perpustakaan nasional, dan Fish Market. Lalu kami berpisah tak jauh dari Pink Church. Tak lupa, saya menyisihkan uang receh sisa ke kantong tip yang ditaruh Tina di lantai agar kami bisa menyumbang berapa pun yang kami mampu. Siang itu, cuaca masih cukup bersahabat, saya masih kuat berpuasa. Tujuan saya berikutnya adalah titik tertinggi di Ljubljana, Ljubljana Castle.
Ljubljana Castle
View dari Ljubljana Castle
Sorenya, Tina, host Couchsurfing saya (bukan tour guide yang tadi) SMS saya untuk janjian di depan Pink Church sekitar jam 5 sore untuk hang out. For sure! Lalu kami duduk-duduk bertiga bersama pacarnya yang guanteng, Teo. Teo memesan bir dan Tina cappucino milkshake, sedangkan saya ngiler ngeliat whipped cream di atas milkshake-nya Tina karena berpuasa. Kami mengobrol duduk-duduk lama dan jalan-jalan sampai malam saat waktu berbuka puasa. Tina berkata, "Happy breakfast." Saya nyengir saat meneguk jus jeruk yang tadi saya beli. 
My Slovenian friend, I really miss them
Today was awesome! Saya suka banget sama Ljubljana, kecil dan cantik!

-@travelitarius #1 Things to do in Ljubljana: Free Walking Tour
Read More
Ah, Slovenia, another my favorite under-rated country. Landscape negara ini luar biasa indah, karena memang Slovenia adalah peringkat 3 negara dengan hutan terluas di Eropa. 60% dari luas wilayahnya adalah hutan. Makanya spirit hiking kental dalam warga Slovenia dan juga menjadi destinasi hiking oleh turis. Dalam 1 negara ini saya hanya mengunjungi 2 kota, yaitu ibukotanya Ljubljana dan Bled karena ingin melihat Danau Bled yang fenomenal itu. Setelah perjuangan hampir lebih dari 12 jam menuju kota ini dari Budapest, akhirnya saya tinggal di rumah Tina di Brezovica, daerah sub-urban Ljubljana yang damai dan indah. Slovenia termasuk Balkan, dengan sejarah panjang sebagai bagian dari Yugoslavia. Pengaruhnya masih terasa dalam hal bahasa dan makanan. 

Brezovica pri Ljubljani (courtesy of www.wikimedia.org), tempat host saya tinggal
Saya banyak menghabiskan waktu bersama host saya di rumahnya. Di sini pertama kali saya melihat dan menyalakan perapian dalam rumah. Excited banget waktu itu!

Selesai nyalain perapian, main sama Pucci!
Pembangunan Ljubljana nggak lepas dari desain Jože Plečnik, sang arsitek yang juga pernah merenovasi Prague Castle. Hampir semua bangunan penting di Ljubljana dirancang olehnya seperti, Tromostovje (triple bridge) yang terkenal, perpustakaan universitas, perpustakaan nasional, Cobbler's bridge, sampai pasar ikannya. Makanya Ljubljana disebut juga Kotanya Plecnik. 

Tromostovje yang terkenal

Pengeluaran selama di Eropa
Hari ke
Tanggal
Pengeluaran
TRS
F&B
ACC
OTH
TOTAL
SLOVENIA: Ljubljana, Bled
28.4
10-Jul-2014
No expenses
11-Jul-2014
Tiket bus ke kota Ljubljana
1.2
Burek (dinner)
2.3
Surf n fries (dinner)
4.8
12-Jul-2014
Tiket bus ke terminal bus
1.2
Tiket bus Ljubljana - Bled
7.8
Tiket bus Bled-Ljubljana
6.3
Belanja groceries
4.8

13-Jul-2014
No expenses





Notes: all in euro
TRS: Transportasi 
F&B: Makan dan minum
ACC: Akomodasi
OTH: lain-lain

Hari terakhir saya nggak mengeluarkan uang sama sekali karena dalam perjalanan naik bus ke Venice. Tina mengantar saya pagi-pagi ke terminal dan pengeluaran 13 Juli akan masuk ke Venice. Total pengeluaran selama 3 malam di Ljubljana adalah 28.4 euro, yaitu 9.46 euro per hari. Yeaay... surplus banyak! Tapi surplus ini nanti akan saya alihkan ke pengeluaran di Italia karena pertama kalinya, saya nggak punya host! Mencari Couchsurfing host bener-bener susah di sana. Ceritanya akan saya tulis di post berikutnya. Stay tuned!

-@travelitarius travel is my way to stay sane
Read More
Berawal dari kemalasan saya memesan kursi di bus OrangeWays jurusan Budapest ke Ljubljana, saya pun bingung setengah mati saat ngeliat kursinya SOLD OUT, 2 hari sebelum sampai di Budapest. Bukan apa-apa, dalam ketidakpastian tanggal berangkat, saya memilih booking tiket transportasi beberapa hari sebelum berangkat saja dibandingkan diurus semua di awal supaya lebih fleksibel. Sebenernya bisa santai aja kalo kehabisan kursi OrangeWays, tapi pilihan lainnya adalah naik Eurolines yang jadwalnya hanya 3 kali seminggu atau naik kereta yang mahal. Pilihan sulit.

Saat menunggu Edith menjemput saya di Terminal Bus Nepliget di kota Budapest, saya menyempatkan diri ke loket bus Eurolines.

"Hi, do you have any connection to Ljubljana on Wednesday?" tanya saya ke cowok Hungarian ganteng di balik loket.
"I am sorry, it is already full booked."
"Okay, how about Thursday?"
"The only connection available is next Monday."
"Monday?" jerit saya. "Do you sell tickets from another bus line? Besides Eurolines?" tanya saya mulai frustrasi. 
"No, we only sell Eurolines tickets."
"Köszönöm," saya mengucapkan terima kasih dalam Magyar yang saya sendiri gak tahu pengucapannya gimana. 

Malam itu saya diajak Edith jalan-jalan diantar mobil bersama Ranjee, gadis India yang cheerful, sesama member Couchsurfing yang menginap di apartemen Edith. Gila, Budapest KEREN ABIS. Paris lewaaaat! Edith adalah guru sejarah SMA jadi setiap dia memperkenalkan suatu bangunan, dia pasti menjelaskan fakta-fakta sejarahnya. Budapest pada malam hari bener-bener kaya lampu, semua bangunan utama di kedua sisi Danube diterangi lampu kuning super silau yang bikin kagum. 

Besok harinya, saya diantar Edith ke stasiun utama Keleti untuk membeli tiket kereta karena nggak bisa dibeli via online. Kebetulan Ranjee mau bertolak ke Presov di Slovakia, jadi kami pergi bersama. Kami peluk-pelukan sebelum Ranjee masuk ke keretanya, "Putri, you have to visit me in Delhi! Promise me." Janji itu belum bisa saya tepati, sponsorin dong, hehehe.

Saya suka fasad Stasiun Keleti ini! Keren banget 
Edith mengantarkan saya ke loket pembelian tiket internasional di stasiun lalu mengambil nomor antrian. Saya dapet nomor 57. Edith langsung nyerocos. "This is insane, you have to wait 4 hours!" 

Saya buru-buru memelototi kertas kecil itu, damn, masih antrian awal-awal. Dan kayaknya bener juga perkiraan Edith. Nggak mungkin juga saya tinggalin dan kembali lagi besok karena dalam H-3 keberangkatan ada booking charge yang lumayan mahal. Sebagai backpacker miskin, saya harus teguh mencari yang murah!

Saya lalu mengambil tempat duduk, Edith sudah kembali pulang karena nggak bisa nemenin saya yang harus mengantri. Berbeda dengan stasiun-stasiun besar di Eropa Barat seperti di Jerman yang udah futuristik abis, kantor pemasaran tiket internasional ini kecil, pake kipas angin, dan loket yang dibuka hanya sedikit! Nggak mau bengong aja di ruang tunggu, saya pun keluar, memanfaatkan tiket Budapest 24 jam yang sudah saya beli.

Ruang tunggu (antrian panjang) dengan banyak loket yang ditutup, hih!
Setelah mubeng-mubeng Budapest, saya kembali ke ruang tunggu penjualan tiket di stasiun Keleti. Masih lamaaaa... nomor berjalan lambat sekali karena setelah curi-curi dengar banyak yang punya masalah. Ketinggalan connection lah, mau beli tapi rutenya masih nggak tahu lah, bahkan ada yang nyuri-nyuri nitip. KZL.

Akhirnya giliran saya datang!

"Hi, could you please book a train ticket from Budapest to Ljubljana on Wednesday?" tanya saya dengan sopan santun ke ibu-ibu di balik loket. Untungnya semua bisa berbahasa Inggris.
"Sure, let me check it for you." Dia lalu mengetik-ngetik di komputernya. "Yes, on Wednesday at 15.00, 9 hours straight to Ljubljana."
"No connection? So I don't have to change trains?" tanya saya memastikan kalau saya harus naik kereta itu saja tanpa pindah-pindah.
"Yes."
"1 ticket please. How much?"
"42 euros. Include seat reservation."
Makjang. Mahal amat. "Can I pay it in forint? How much in forint?"
"Yes, you can. It is 13.060 forint."
Saya lalu mengeluarkan berlembar-lembar uang forint untuk membayarnya. Dengan tiket di tangan dan hati yang lesu karena baru ngeluarin uang yang banyak sekali, saya pun keliling kota Budapest lagi di malam hari, khususnya di area Castle Hill.

Dua hari kemudian, setelah berpisah dengan Erika, yang menjadi host saya setelah Edith, saya pergi ke Keleti untuk pindah ke Ljubljana! Saya udah excited banget karena ada Tina yang menunggu saya di sana dan hasil searching, Slovenia bagus pake banget. Karena tiket Budapest 24 jam saya expire jam 12 siang, sementara saya gak punya forint lagi buat beli tiket lain, akhirnya saya sampai di stasiun kecepetan. Nggak papa, saya suka ngeliatin kereta-kereta yang datang dan pergi.

Memasuki jadwal boarding kereta, saya masuk dan mencari gerbong saya lalu masuk di kompartemen dengan kursi bernomor. Norak karena baru pertama kali naik kereta kompartemen, saya bahagia dan menunggu 9 jam menyenangkan di kereta ini sampai Ljubljana.

Tapi ternyata tidak...

Karena ada pengerjaan rel kereta, dari kota Sárbogárd ke Kaposvár kami dipaksa turun semua untuk melanjutkan perjalanan dengan bus. Yep, dengan bus. Bayangin hiruk pikuknya, semua penumpang turun, membawa bawaan berat masing-masing, lalu berbondong-bondong memilih bus yang akan ditumpangi. Saya terpaksa naik bus belakangan karena banyak yang sudah penuh.

Sunflowers field: gak bisa dilihat setiap hari. Sorry agak ngeblur, ngambil fotonya dari bus yang berjalan :)
Perjalanan di bus memakan waktu 2 jam, sepanjang perjalanan saya melihat banyak kebun bunga matahari yang bagus banget. Rasanya pengen turun lalu lari-larian di sana. Sampai di stasiun Kaposvár, capek dan mumet karena harus pindah-pindah, kami menunggu kereta menuju Ljubljana. Namun yang datang hanyalah kereta ke Zagreb dengan 4 gerbong saja sementara kereta kami sebelumnya ada 6 gerbong.

Apa yang terjadi? Kereta overloaded. Semua memaksa naik. Pas saya sudah di dalam gerbong, lalu lintas di dalamnya stuck gak bergerak. Saya bingung, "Kenapa gak ada yang bisa masuk? Kok stuck begini sih!" Beberapa menit, antrian masuk tidak bergerak juga, tapi kereta sudah mulai jalan lagi. Ini gila, ini gila... masak di dalem kereta penuh sekali? Berjalanlah kereta tanpa ada petugas yang peduli bahwa sebagian besar penumpang duduk di lantai. Tak ada satu pun pengumuman, tak ada penjelasan, tak ada petugas terlihat. Bahkan lantai pun penuh dengan manusia dan backpack atau koper.

Mulai desperate...
Bagi yang beruntung, mereka dapet tempat duduk di kompartemen dan kursi non-kompartemen. Tapi jumlah kursi tak sebanding dengan jumlah penumpang. Saya akhirnya menduduki backpack saya, dikelilingi ABG Irish yang berisik dan ketawa-ketiwi. Beberapa akhirnya pasrah, terduduk membaca buku, ada yang main kartu, bahkan ada yang sempat-sempatnya tidur.

Di dalam hati, perasaan saya campur aduk. Marah, kesal, dan bertanya-tanya, kalau kereta ini hanya sampai Zagreb, gimana ke Ljubljana-nya? Semua ini saya bayar 42 euro, dan saya duduk di lantai! Kalau ada petugas di situ, mungkin sudah habis disemprot oleh kami semua. Sayangnya, tak ada petugas, tak ada solusi, tak ada penjelasan.

Matahari mulai terbenam pukul setengah 10 malam dan tak ada tanda-tanda akan sampai di Zagreb. Lalu saya tertidur dengan posisi duduk di atas backpack. Saya berterima kasih sama badan saya karena gak kepengen pipis sementara banyak yang ributin toilet.

Di Indonesia aja, saya belum pernah ngemper di lantai kereta, hih!
Kereta berhenti. Lalu kami bertanya-tanya ada apa. Seseorang menyuruh kamu menyiapkan paspor, oh imigrasi... Semoga ada yang bisa memberikan solusi! Amin! Beberapa menit kemudian, polisi imigrasi mulai menyeruak, mengecek paspor satu per satu. Buat paspor negara berkembang, paspornya cuma dilihat sebentar dan dicap. Saya tidak, petugas harus mencatat nama saya. Yang mengecek paspor duluan adalah imigrasi Hungaria lalu imigrasi Kroasia. 2 cap langsung saya terima saat itu. Kereta mulai berjalan lagi. APA? Imigrasi juga gak bisa ngapa-ngapain ngeliat kereta kita yang kayak kereta barang? GILA! Gak ada solusi banget!

Total 5 jam kami habiskan di dalam kereta neraka itu. Saya capek dan marah. Zagreb Glavni Kolodvor mendekat di depan mata. Kami girang bukan main. Saya ikutan turun ke peron kereta. Sebagian besar penumpang berlari-lari mengejar kereta lanjutan, ada yang ke Dubrovnik dan Split. Sementara saya pikir cepat, langsung ke loket informasi mengenai kereta menuju Ljubljana. Ternyata di depan loket sudah terdapat 4 orang yang sama-sama menuju Ljubljana.

"The last train is already took off," kata cewek Irlandia yang saya tanyai. Kami tak punya pilihan lain kecuali menginap di Zagreb dan naik kereta besok pagi-pagi.

"And my ticket is valid for tomorrow journey?" tanya saya ke petugas. Itu yang penting buat saya. Saya gak mau bayar lagi buat kereta besok! Cukup sudah
"Yes, your ticket will be okay."

Akhirnya kami berlima mendapatkan informasi hostel terdekat dari stasiun dari petugas. Saya terpaksa menarik ATM 200 kuna Kroasia untuk membayar hostel 1 malam. Sial, sial, siaaaaal! Kami berkenalan, ada Adrianna dari Kanada, John dari Amerika Serikat, dan David from Australia, serta cewek Irlandia, Hannah. 

Besok paginya karena hujan lebat mengguyur Zagreb, kami memutuskan untuk naik kereta siang saja. Saya lalu bergelung di dalam selimut dan bermalas-malasan. Di dalam kereta melintas Slovenia, kami kembali mengalami pengecekkan paspor dan tiket kami baik-baik saja. Kagum melihat pemandangan Slovenia, saya tidak tidur sepanjang perjalanan, biasanya kan saya gampang banget tidur.

Lalu saya mengobrol dengan John yang sudah pernah ke Indonesia dan Jakarta. "Your capital is crazy. Traffic jam everywhere. Everyone use mopeds. Crazy, you live there." Saya mengangguk saja mengiyakan. Emang bener sih. Saat kereta berhenti di peron, kami semua berpisah di Stasiun Ljubljana dan saya mencari Tina yang sudah menunggu saya.

"Oh, Tina, you never know what I've been up to!" Saya memeluknya.

21 jam menuju Ljubljana. 42 euro untuk segala kesialan ini. 4 cap masuk-keluar. Seumur hidup akan diingat. Hungarian Railway, you suck.
Read More
Setelah lama ngimpi-ngimpi pengen ke Lake Bled gara-gara ngeliat gambarnya di salah satu artikel travel, danau ini jadi salah satu tujuan utama saya di Eropa. Slovenia dan ibukotanya Ljubljana sendiri menurut saya keren banget karena landscape alamnya yang nggak biasa. Kalau kita ke pusat kota Ljubljana, cukup jalan kaki sekitar 45 menit, kita sudah ketemu jajaran bukit buat treking. Apalagi kalau kita lihat gambar-gambar kota lain seperti Piran dan Maribor. Saya sih setuju banget dengan slogan pariwisata Slovenia: "I feel SLOVEnia", satu-satunya negara di dunia yang punya "Love" di namanya. Cieileh, romantis...
I feel it too!
(Courtesy of www.slovenia.info)
Read More
Previous PostOlder Posts Home