Kenapa Brussels dianggap sebagai ibukota Eropa? Karena markas besar European Commission, European Parliament, dan NATO terletak di Brussels, ibukota negara Belgia. Kota ini juga disebut-sebut sebagai melting pot beberapa budaya di Eropa: Belanda, Jerman, dan Prancis. Ketika saya berkunjung ke kota ini, sedikit saja sensitifkan telinga, Brusseleirs gampang sekali berganti bahasa ketika sedang bercakap-cakap. Host Couchsurfing saya, Lotte, berasal dari Antwerp, bagian dari Belgia yang berbahasa Belanda, tapi dia juga fasih berbahasa Jerman, Prancis, dan Inggris. Di kota ini sendiri, 80% penduduknya berbahasa Prancis, 20%-nya bahasa Belanda. Nama-nama jalan di Brussels juga punya dua nama: Belanda dan Prancis, misalnya Grand Place punya nama lain Grote Markt dan alamat host saya di Rue de l'Etuve atau Stoofstraat. Oh, dan sebelum saya lupa, orang Belgia cuma cium pipi kanan, tidak seperti Italia yang kanan-kiri atau Polandia yang kanan-kiri-kanan. 
Grand Place/Grote Markt

Read More
Bloemenmarkt atau pasar bunga di Amsterdam menurut saya adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Amsterdam. Apalagi buat pehobi tanaman, mungkin rela seharian di sini. Bagaimana tidak, bloemenmarkt adalah pasar bunga yang menjual berbagai jenis tanaman, dari bibit sampai tanaman tumbuh. Mulai yang standar Belanda: tulip, mawar, ganja, sampai tanaman karnivora (itu loh yang penampakannya kayak mulut monster yang biasa memakan binatang). Kamu bisa memborong bibit tulip seharga 6 euro untuk 10 buah buat ditanam di Indonesia. Rasanya semua tanaman bunga semua ada di sini. Mau tulip jenis apa, ada. Mau pilih warna apa, juga ada semua. Seru banget ngelihat warna-warni bunga di sini, walaupun gak bisa ke Keukenhoff, ke bloemenmarkt juga oke.

Letak
Toko-toko di Bloemenmarkt mengapung di kanal Singel sejak tahun 1862. Mereka mengklaim bahwa di dunia, pasar ini satu-satunya pasar apung yang menjual bunga. Kanal ini terletak di antara Koningsplein dan Muntplein, buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai setengah 6 sore.
Terletak di kanal Singel

Read More
Sesuai janji, kali ini saya akan review Megabus, lini bus berbasis di UK yang cakupan destinasinya adalah Eropa Barat dan UK. Bus ini melayani ke kota-kota di England, Scotland, Ireland, Wales, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, dan Spanyol. Jadi untuk kamu yang ingin sekali mengeliling Eropa Barat apalagi UK, naik Megabus jadi salah satu cara menekan pengeluaran transportasi.

Online booking
Situs www.uk.megabus.com cukup sederhana dan gampang digunakan. Mirip dengan situs online booking pesawat.
Halaman muka uk.megabus.com
Untuk tahu apakah Megabus melayani rute tertentu, langsung saja cari di kotak “Leaving from”, nanti di kotak “Travelling to” akan muncul koneksi dari kota asal. Misalnya, dari Glastonbury, Megabus hanya melayani ke London, Swindon, Exeter, Corsham, dan Chippenham, tidak bisa ke Paris atau Birmingham.
Read More
Benua Eropa memang luas, dengan adanya single visa, pastinya selalu ada keinginan tidak hanya mengunjungi 1 negara saja, kalo bisa 22 negara Schengen khatam sekaligus! Ketika saya berkunjung ke sana, saya mengunjungi 12 negara jika Vatican City dihitung. Total perjalanan saya menghabiskan 32 juta rupiah sudah termasuk tiket pesawat pp. Murah kan? Banyak yang bertanya gimana cara saya getting around Europe dengan murah. Begitu banyak informasi di internet, bahkan kita bisa pakai website favorit www.rome2rio.com untuk research bagaimana mencapai kota tertentu dari kota tertentu. Jadi kamu bisa memilih transportasi sesuai budget. Saya tidak pakai Eurail Pass untuk keliling walaupun sempet jadi pertimbangan, tapi setelah dihitung-hitung, kok lebih mahal pake Eurail Pass daripada beli ngeteng dan pakai bus. Postingan kali ini akan saya jelasin detail transportasi apa yang saya pakai beserta harganya.

Ini rute Eropa 50 hari saya (Start 8 Juni 2014; Finish 29 Juli 2014)
Jakarta-Kuala Lumpur-Paris-Amsterdam-Brussels-Aachen-Duren-Cologne-Hanover-Berlin-Potsdam (day trip dari Berlin)-Poznan-Warsaw-Krakow-Oswiecim (day trip dari Krakow)-Wroclaw-Prague-Brno-Vienna-Bratislava-Budapest-Ljubljana-Bled (day trip dari Ljubljana)-Venice-Roma-Florence-Pisa (day trip dari Florence)-Milan-Paris-Kuala Lumpur-Jakarta
Read More
Susah untuk menjawab selain "Vienna" kalau ditanya "Dimana tempat terbaik menonton konser musik klasik dan opera?" Yes, Vienna. Tempat dimana Mozart, Beethoven, dan Bach pernah mengadakan konser tunggalnya. Vienna Philharmonic disebut-sebut sebagai salah satu orkestra terbaik di dunia, yang bermarkas di Vienna State Opera (Wiener Staatsoper). Gedung Staatsoper ini juga merupakan salah satu opera tersibuk di dunia, yang menyelenggarakan sekitar 300 konser, opera, dan pertunjukan balet sepanjang tahun. Wew, jadi kapanpun kamu ke Vienna, pasti ada pertunjukan di Staatsoper

Kalau kamu jalan-jalan di Vienna, khususnya di sekitar St. Stephen Cathedral atau Schloss Schonbrunn, kamu pasti nemu cowok-cowok yang berpakaian ala Mozart lengkap dengan rambut palsunya (gak kebayang gerahnya pas summer!). Cowok-cowok ini sales tiket konser yang biasa diadakan di Schloss Schonbrunn dan harganya lumayan mahal kalo gak ambil tiket student. Berhubung orang Indonesia mukanya baby face, coba aja keberuntungan dengan membeli tiket student. Harga termurah yang mereka tawarkan sekitar 25 euro untuk student.

Read More
We expect the unexpected when travel. There’s no damn thing about perfection in traveling. We plan, God laughs.

Perjalanan ke Jawa Timur tahun lalu banyak cerita sialnya. We make mistakes, we learn from that. Semoga bisa menjadi pelajaran buat orang lain.

1. Sepatu saya jebol. Yaiyalah, sepatu kets dari jaman kelas 6 SD itu emang udah renggang dikit solnya. saya pede gonjreng banget sepatu itu bisa tahan buat hiking. Ha. Perkiraan saya salah. Sesampenya di Juanda, saya ngerasain sepatunya ngropos. Bener aja, solnya copot semua! Hancur lebur. Sempet diketawain sama petugas bandara, saya ganti ke sendal jepit dan sepatu busuk itu saya makamkan di tong sampah Juanda.

Problem solved: saya bela-belain nongkrong di depan Ramayana deket Terminal Bungurasih supaya bisa beli sepatu. saya pengunjung pertama pagi itu, milih-milih, akhirnya beli sendal gunung Carvil seharga 80 ribu (maunya yang murah). Ternyata sendal gunung itu sakti, bisa nganterin saya sampai Kawah Ijen, dan sampe sekarang masih oke. I love cheap!
Read More
Mendaki gunung adalah hal yang paling pengen saya kerjain di tahun ini. saya selalu penasaran apa yang dicari manusia-manusia petualang menuju puncak-puncak bumi? Bukankah mendaki sendiri adalah pengalaman yang menyusahkan? Bayangin, lo pergi, nanjak, dengan beban belasan kilo, menuju puncak, foto-foto sebentar di atas, terus turun lagi? Buat apa semua susah payah itu?

Dan teman saya akhirnya mengajak saya ke Kawah Ijen, yg ngebutuhin pendakian. Saatnya ngejawab penasaran itu! Gimana sih sensasi mendaki gunung?

Kebetulan agenda kami ini dibarengin dengan nonton Jember Fashion Carnaval 2013 di Jember. Nonton karnaval heboh ini kesampaian juga karena dapet tiket pp Mandala yang murah banget. Akhirnya saya dapet jadwal pp yg oke, Jumat pagi berangkat, Minggu malem pulang, CGK-SUB. Berhubung karnavalnya hari Minggunya, maka kami punya waktu luang di Jumat dan Sabtunya, yang akhirnya kami manfaatin buat berkunjung ke Bondowoso dan hiking ke Ijen.
Read More
Beer for noobs
Thanks to German culture, saya pun ditawari beer oleh host orang Jerman, Jenny dan Micha. Karena mereka tahu benar saya Muslim, jadilah saya disodorin “alkoholfreibeer. Sudah alkoholfrei, rasa lemon pula. Mungkin ini jenis beer paling noobs seantero Jerman, hehehe. Awalnya saya dikasih alkoholfrei tanpa tambahan rasa. Setelah menyicip sedikit (dan proses “inisiasi bir” ini ditontonin sama Jenny dan Micha), saya menyernyitkan muka, bleargh, pahit! 


"It’s bitter!" kata saya, menyicip sedikit lagi.

"Yeah, every first-timers will say that," kata Micha, sedikit tertawa melihat ekspresi muka saya.

"And the one with the alcohol has the same taste with the alcohol-free?" tanya saya lagi.
"Yep."
"I don't understand."
Read More
Terakhir kunjungan ke Singapura mengharuskan saya tidur di Changi Airport. Ya mau gimana lagi, sampai di sana sekitar jam sepuluh malam karena pesawat dari Jakarta delay 1 jam. Eh, tapi saya emang rencana tidur di sana sih, habisnya daripada ngabisin 40 dolar tambahan buat tidur di hostel yang bakal cuma beberapa jam, mendingan tidur aja sekalian disini. Maklum, budget traveler :)


Changi Airport sering dinobatkan oleh Sleeping in Airport sebagai bandara yang paling nyaman “ditiduri” oleh para traveler yang transit atau emang gak punya duit seperti saya. Menurut saya (sebagai traveler yang belum banyak melihat bandara, bandara ini memang sangat bagus), Changi lebih seperti mal. Ketika bandara-bandara yang lain sekedar memberikan fasilitas yang cukup karena menyadari fungsi bandara sehingga mengharap orang akan cepat meninggalkannya, Changi membuat orang-orang di dalamnya merasa ingin berlama-lama di dalam.
Read More
Kalo istilah backpacker pasti udah gak asing lagi di percakapan sehari-hari, bahkan banyak orang yg sok-sokan ngaku backpacker tapi mentalnya belum *ups. Saya sendiri gak mendefinisikan diri sebagai traveler jenis apa, saya kadang pake backpack, tapi gak nolak juga pake koper, tergantung situasi aja. Tapi saya beneran gak setuju kalo definisi backpacker cuma sebatas “orang yg jalan-jalan memakai ransel”. Backpacker lebih kepada mental dan mindset.

Flashpacker. Belum banyak yang denger tentang gaya jalan yang baru beberapa tahun ini dikenalin. Apa sih flashpacker? Perbedaan paling utamanya adalah ini: (ngutip dr ezine articles)

"Flashpackers are NOT a sub-set of backpackers. Backpackers being defined here as those who travel on a strict budgets, use backpacks, and prefer traveling experiences over touring experiences (a distinction that is like the problem of evil discussion in philosophy, mix two beers and you could go at it all night long). In my experience, the different attunements to money make the two fundamentally different types of travelers.Flashpackers will, for example, stay in a super budget hotel, but splurge on the famous restaurant in town. Therefore the fundamental credo of the backpacker might be to seek out budget experiences that are “locally authentic” (in the best cases), whereas the credo of the flashpacker would be to seek out high value experiences that are personally interesting."
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home